Empati, Seni Komunikasi yang Hilang

empathy

Saya mengenal istilah empati ini bertahun-tahun yang lalu, dan saya selalu kesulitan membedakannya dengan simpati. Mungkin karena dibesarkan sebagai cowo, dan sekolah pun di bidang engineering, agak sulit untuk saya membedakan 2 hal ini, kedua hal ini terlalu feminism dan tidak exact, sedangkan saya, ehmmm, Boys will be boys. 

Menurut saya jika ada yang sedang sedih, kecewa atau berduka, sudah tanggung jawab kita meringankan bebannya dengan memberi semangat atau solusi terhadap masalahnya. Tetapi entah kenapa hal ini tampaknya membuat saya semakin frustasi, dan rekan, sahabat atau pasangan pun tampaknya semakin frustasi. Ternyata inilah yang disebut dengan Simpati, setidaknya menurut definisi saya. Kita jatuh kasihan, padahal rekan kita tidak butuh dikasihani.

Tentu ini semakin membingungkan, saya berusaha baik tapi kok malah jadi kacau, makanya kadang-kadang lebih baik menghindar saja. Beberapa saat yang lalu saya membaca perumpamaan yang cukup menarik yang menjelaskan kenapa simpati ini membuat kita dan rekan kita frustasi.

Suatu ketika ada seseorang yang rabun jauh, dan pergi ke toko Optik, petugasnya sangatlah baik, melihat kesulitan dari customernya, ia pun berpikir cepat. Kacamata yang saya pakai ini sangat membantu saya, dan sangat berharga untuk saya, tetapi demi sang pelanggan, saya relakan kacamata ini. Kemudian sang pelanggan pun diberikan kacamata ini, tetapi bukannya semakin jelas, justru semakin kabur, ya iyalah, matanya saja beda.  Semakin ia berusaha semakin pusing sang pelanggan. Sang petugas pun semakin bingung, ia sudah berusaha sebisa mungkin, tetapi orang yang dibantu malah tidak menghargai dan mengatakan semakin kabur. Nah inilah yang disebut sebagai simpati, kita memaksakan ukuran kita terhadap orang lain, yang kemungkinan besar memiliki ukuran yang berbeda. Akhirnya menyebabkan frustasi antara keduanya.

Empati ini sedikit berbeda, kita tidak berusaha untuk menilai atau menghakimi orang lain, kita berusaha merasakan apa yang ia rasakan, dan berusaha melihat apa yang ia lihat. Hal ini memberikan udara atau bantalan emosi terhadap rekan kita, membuat kita terhubung lebih baik, dan kita bisa mengerti kondisi sesungguhnya terhadap kesulitan-kesulitannya.

Tetapi percayalah, berbuat secara emphatic ini sangatlah sulit, karena akan membuat kita terpapar terhadap kerapuhan rekan kita dan menuntut kesabaran yang luar biasa. Tetapi hasilnya sungguh luar biasa, kita akan memiliki relasi yang lebih kaya dan kepercayaan yang lebih tinggi.

Dan tentu saja jangan berbaik sangka kepada saya, bahwa saya berkomunikasi dengan empathy, tentu saya berusaha, tapi seringkali kemalasan dan disiplin yang rendah menghalangi saya untuk melakukannya secara konsisten.  Tetapi saya percaya, semakin banyak kita berusaha ber-empathy, dunia akan semakin menjadi tempat yang menyenangkan.

Advertisements

Akhirnya Hidup ini Tentang Melayani

Image

Kita saat ini hidup di dunia yang berkembang sangat luar biasa cepat. Banyak hal-hal baik yang ditimbulkan dari semangat yang di dasari oleh sistem kapitalisme. Perekonomian tumbuh pesat, banyak sekolah, rumah sakit, dan masih banyak lagi.

Tetapi kalau kita lihat lebih jauh, lebih detil, banyak sekali orang-orang yang terbuang, yang tidak mendapatkan kesempatan dalam berpartisipasi secara ekonomi. Para pelaku ekonomi pun juga kehilangan identitas, mereka terus mengejar kekayaan yang akhirnya meracuni jiwanya sendiri. Ketakutan akan kehilangan kekayaan, bekerja mengejar kekayaan yang lebih tinggi, perasaan berkuasa yang menimbulkan arogansi dan banyak hal lagi.

Hal-hal ini menurut pendapat saya diakibatkan oleh kepentingan diri (self-interest) yang mendasari semangat kapitalisme, dimana jika saya melakukan sesuatu, untungnya buat saya apa? Dalam sistem ekonomi tujuannya adalah kita akan didorong untuk terus meningkatkan efisiensi untuk mendapatkan laba setinggi-tingginya, yang diharapkan memberikan manfaat bagi komunitas.

Secara makro semangat seperti ini, akhirnya mengakibatkan Premanisme ekonomi, dimana orang-orang bisa sewenang-wenang ketika ia memiliki kekuatan ekonomi. Melakukan penyuapan, menghancurkan ekonomi rakyat, praktek rentenir, melakukan kartel dll. Cukup banyak akibat yang kita lihat akibat dari premanisme kapitalisme.
Secara pribadi, semangat ini juga sangat bahaya. Ketika kita selalu berpikiran apa untungnya buat saya. Kita cenderung tidak sabar, akibatnya banyak hal-hal berharga seringkali kita korbankan. Bahwa tugas kita menjaga adala keluarga, menjaga kesehatan diri, menjaga lingkungan kita, menyelesaikan pekerjaan kita dan karya-karya untuk melayani sesama seringkali kita lupakan, alih-alih kita menuntut apa untungnya buat saya. Bahkan jika kita melayani sesama kita akan akan berpikir, untungnya buat saya apa.

Dengan semangat melayani, bukan dilayani, akhirnya hidup kita juga terasa lebih menyenangkan. Kita tidak terlalu lagi menuntut apa keuntungan saya apa, tetapi kita akah berpikir siapa lagi yang harus saya layani, kita melihat anak kita senang, kita melihat kolega kita berkembang, kita melihat team kita sukses, kita melihat pekerjaan kita selesai, kalau kita pengusaha, kita melihat bagaimana komunitas mendapatkan keuntungan dengan tetap menghasilkan laba, dan bagaimana team kita bekerja secara efektif dan hal-hal positif lainnya. Tentu melayani bukan berarti memanjakan ya.

Tentu namanya melayani kita akan jauh lebih lelah, seperti main bola juga lelah kan, tetapi jika hati senang, tentu akan sangat menyenangkan. Kita akan berkembang secara jauh lebih sehat, baik secara jiwa, fisik dan ekonomi.
Saya yakin jika semangat melayani ini bisa dikembangkan, hasilnya akan luar biasa, untuk diri sendiri, keluarga dan lingkungan.

 

Rasa Takut adalah Pedang Bermata Dua

Image

Apakah anda pernah merasa takut? Kalau saya jawabannya sering. Tentu rasa takut ini diciptakan ada manfaatnya, bahkan sangat esensial. Resiko di sekitar kita terlalu banyak, tanpa rasa takut mungkin kita sudah tidak ada di sini.

Seperti ketika kita naik motor, kita tidak mau ugal-ugalan karena kalau jatuh bisa sangat gawat. Di kantor jangan bermalas-malasan, karena kalau kita malas bisa dipecat. Rasa takut ini memberi kita visi di masa depan, sehingga kita bisa mengantisipasinya.

Oleh karena itu tidak heran kadang-kadang rasa takut ini mencengkeram kita dengan sangat erat, karena fungsinya yang begitu penting. Akibat buruknya kita tidak bisa melihat kesempatan-kesempatan yang muncul.

Bahkan para peneliti dengan berbagai cara, memperkirakan suatu angka, bahwa manusia 10x lipat takut kehilangan daripada mendapatkan sesuatu. Untuk, memperjelas, walaupun seringkali tidak sejelas ini, anda lebih memilih menyimpan Rp 1000 daripada kehilangannya tetapi mendapatkan kesempatan 50% untuk mendapatkan Rp 20.000.

Hal  ini yang menyebabkan kita kehilangan potensi terbaik kita.  Misalkan kita takut mengambil keputusan karena takut disalahkan, kita takut menginvestasikan uang kita, karena takut uang kita hilang. Memang resiko itu ada, tetapi seringkali tidak sebesar yang ada di kepala kita. Mengingat setiap hari kita juga memiliki resiko, kadang-kadang mengambil resiko itu memiliki resiko yang paling kecil.   

Bahkan kadang-kadang kita mempertaruhkan hal yang jauh lebih besar, untuk hal-hal yang kurang penting. Misalnya:

  • Kalau naik motor ada celah sempit sudah masuk, demi menyelamatkan 30 detik
  • mengendarai mobil  ugal-ugalan karena  terlambat mengikuti meeting
  • Tidak mau memberi jalan kepada mobil yang mau lewat
  • Tidak mau mengalah karena takut ego nya rusak.  

Tentu ini sangat kontra produktif , bagaimana mungkin anda mempertaruhkan nyawa anda untuk mendapatkan waktu yang sangat pendek, bagaimana mungkin kita  mempertaruhkan ego demi hubungan yang jauh lebih penting. Mungkin rasa takut yang mengurat-akar ini penyebabnya.

Hal seperti ini tampaknya harus kita asah perlahan-lahan agar kita bisa mengendalikannya dengan lebih baik, sehingga hidup kita lebih optimal.  Tentu saya masih bergumul terhadap rasa takut ini, mungkin sudah waktunya saya mulai mengurangi rasa takut ini.

Greatness to Goodness

Image

Penggemar buku mungkin sudah sering membaca buku legendaris karangan Jim Collins, From Good To Great. Saya belum sih, karena tebal bukunya :), I am Sorry :).

Yang saya ingat dahulu dari petinggi di perusahaan saya bekerja, mengatakan bahwa dalam bukunya Jim Collins menuliskan, musuh terbesar Hebat (Great) adalah Baik (Good). Saya tentu setuju sekali, dengan tulisan Jim Collins, kalau kita sudah merasa baik, tentu kita enggan untuk berubah menjadi hebat, karena beresiko.

Tetapi beberapa saat yang lalu saya menonton film Walt Disney yang menurut saya sangat bagus, “The Great and Powerful Oz”.  Seorang pesulap dari Manhattan yang bernama Oscar Diggs, jatuh di suatu negeri ajaib bernama Oz. Negeri Oz ini sedang dijajah oleh Tukang Sihir yang sangat sakti dan jahat. Terdapat suatu nubuat , bahwa negeri tersebut akan dibebaskan oleh Penyihir hebat bernama Oz, yang kebetulan juga kependekan nama dari Oscar Diggs.

Mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat Oz, sang pesulap, yang “terlalu percaya diri” ini cukup kebingungan bagaimana melawan tukang sihir yang sakti. Tetapi untungnya ada penyihir baik yang mengetahui bahwa sebenarnya ia adalah orang biasa, tetapi yakin terhadap ramalan tersebut bahwa Oscar memang merupakan jawaban atas negeri Oz.

Menggunakan sumber daya yang ada Oscar Diggs merancang strategi, dan menciptkan alat ilusi dari pengalamannya bermain sulap. Dan akhirnya penyihir jahat berhasil dikalahkan.

Sang Oz bertanya kepada penyihir baik, bagaimana sang penyihir bisa melihat kehebatannya, yang dia sendiri tidak tahu dia memilikinya. Sang penyihr berkata, bahwa ia melihat lebih dari kehebatan Oz, dia melihat kebaikan dalam dirinya.

Seringkali kita hanya mencari dan menunjukkan kehebatan diri kita, tetapi melupakan bahwa ada sesuatu yang lebih penting, yaitu kebaikan. Kehebatan sering merupakan cerminan ego kita untuk menunjukkan eksistensi sedangkan kebaikan seringkali keinginan untuk menjadikan diri kita, orang lain, atau lingkungan menjadi lebih baik. Dan saya merasa sangat pantas bahwa kita perlu mulai beralih dari yang bersifat ke-“aku”-an ke sesuatu yang lebih bersifat “kita” yang tercermin dari kataGreatness to Goodness”

Biarkan Lingkungan Membantu Kita Melakukan Hal Besar

Image

Sebagai manusia, kita memang ditakdirkan sebagai makhluk yang lemah. Dari segi kekuatan, kita kalah dengan hewan seperti macan, orang-utan, kucing hutan atau gajah ataupun dengan kekuatan mesin. Dari segi kemampuan meproses data kita juga sangat tertinggal dibandingkan dengan komputer.

Tetapi kita adalah makhluk yang sangat kreatif, kita dapat meng-exploitasi lingkungan di sekitar kita. Misalnya, walaupun rahang kita lemah, manusia mampu memanfaatkan api untuk memasak daging, sehingga makanan lebih mudah dikunyah ataupun dicerna. Manusia jaman dahulu pun mulai menggunakan alat dan senjata untuk bercocok tanam ataupun berburu. Mereka juga memanfaatkan aliran air untuk membuat irigasi, bahkan membuat bidang miring yang cukup panjang untuk menyusun batu-batu raksasa untuk membuat pyramid raksasa di mesir.

Selain itu manusia juga mulai bekerja-sama dengan manusia lainnya, melalui perdagangan, sistem politik, perusahaan atau organisasi untuk mencapai tujuan bersama yang jauh lebih besar dibandingkan kemampuan individual dalam mencapainya, sehingga kita melihat bangunan yang megah, kapal raksasa, disain mobil yang luar biasa, atau Negara yang mampu bertahan dari serangan dari dalam maupun luar.

Hal-hal ini tidak mungkin dicapai manusia jika ia tidak memanfaatkan lingkungannya dalam membantunya, ia menjadikan sumberdaya di sekitarnya baik finansial, pengetahuan, manusia lainnya, sumber energy, dll sebagai sumber kekuatan.

Tetapi alih-alih memanfaatkan lingkungan kita sebagai kawan, kita sering memilih menjadikan lingkungan ini lawan kita. Ini gila, karena menyadari bahwa kita makhluk lemah, kita pasti akan kalah. Kita harus mencari sisi positif dari lingkungan kita dan memanfaatkan. Jangan kita mengatakan bahwa lingkungan harus bertingkah mengikuti kita , seperti berharap matahari terbit dari barat, ini tidak mungkin.  

Sun Tzu menunjukkan dengan kalimat yang indah. Jika batu itu persegi, jadikanlah benteng, jika batu itu bulat gelindingkanlah untuk menyerang musuh.

Misalkan kita melihat bahwa:

  • Orang-orang di sekitar kita tidak peduli, mungkin kita belum menyentuh kepentingan mereka.
  • Orang lain tidak mampu, mungkin kita belum melatih mereka
  • Orang lain tidak telaten, mungkin mereka orang yang kreatif, atau sebaliknya
  • Modal Finansial kurang, mungkin kita memulai dengan terlalu besar
  • Project terlalu lama selesai, mungkin cakupannya terlalu besar atau tidak jelas

Saya mengamati bahwa untuk setiap kekurangan selalu ada kelebihan, hanya saja kita terpaku pada kekurangan tersebut, sehingga menjadikan kita frustasi. Yang akhirnya menyebabkan kita merasa menjadi korban, karena sudah memberikan seluruh daya upaya tetapi tetap lingkungan kita tidak bergeming.

 Terkadang kita juga memberikan ujian terhadap tekad kita, dengan godaan yang terlalu besar, yang sangat sulit kita menangkan misalnya:

  • Rencana berhemat tetapi sering pergi ke mall, atau melihat baju atau gadget yang menarik hati
  • Diet tetapi berjalan-jalan di sekitar food-court ataupun restoran yang menyebarkan aroma yang luar biasa, saat perut kita keroncongan.
  • Ingin berhenti merokok tetapi terus bergaul dengan perokok.

Karena kekuatan lingkungan ini luar biasa besar, jika kita tidak memanfaatkannya, bisa dipastikan kita yang terlibas. Ini seperti hendak berenang melawan arus sungai, tetapi jika bisa memanfaatkannya, kita bisa menggunakan sampan, sehingga kita bisa memanfaatkan energy dari arus sungai ini.

 Saya berharap kita bisa mengambil keuntungan dari kondisi lingkungan kita, menghindari hal-hal yang tidak bisa kita menangkan, atau mengubah dari posisi merugikan menjadi keuntungan.

Belajar dari Sistem Politik Kuno

as-assembly

Sistem politik di masa China dan Yunani kuno merupakan tonggak sejarah budaya manusia. Hebatnya pemikiran-pemikiran mereka masih ada yang mendasari sistem politik saat ini. Contohnya Istilah Republik merupakan istilah yang pertama kali dicetuskan oleh Aristoteles. Mempelajari perpolitikan kuno ini sangat mengasyikkan, karena mereka memiliki tatanan politik berdasarkan kebutuhan saat itu, untuk menciptakan masyarakat madani.

Salah satu pemikir yang mendasari sistem politik china pada jaman dahulu adalah Konfucius atau Master Kong. Beliau muncul di salah satu jaman di china yang dikenal dengan periode musim semi dan musim gugur. Suatu era di china yang memiliki banyak pemikir dan filsuf. Era ini sekitar tahun 700 Sebelum Masehi (SM)  Beliau menekankan pentingnya nilai-nilai yang dimiliki oleh pemimpin pemerintahan. Menurut beliau penguasa tertinggi harus menjadi contoh teladan bagi para pejabat-pejabatnya. Yang pada akhirnya para pejabat ini menjadi contoh bagi rakyatnya. Master Kong menekankan pentingnya pengendalian diri dibandingkan hukuman dari luar. Bahkan jika ada orang yang berbuat salah, disarankan agar kita introspeksi terhadap diri sendiri dibandingkan menyalahkan orang tersebut.  Jaman Konfusius menekankan terhadap pentingnya keluhuran jiwa.

Pemikir lainya, Mozi juga mementingkan pentingnya keluhuran jiwa, tetapi menurut beliau, seorang pejabat juga harus cakap, dan kecakapan ini dapat  diperoleh melalui sikap dan pendidikan yang tepat. Berbeda dengan konfusius yang mementingkan pejabat harus dari kalangan darah biru, Mozi tidak mempermasalahkan darimana ia berasal, yang penting kemampuannya memadai.

Periode musim semi dan musim gugur ini diakhiri oleh peperangan yang pecah di china, sehingga kekacauan muncul dimana-mana. Munculah Sun Tzu, seorang tokoh militer yang menulis buku strategi perang. Berbeda dengan Master Kong yang mementingkan keluhuran jiwa, Sun Tzu mengambil pendekatan yang sangat pragmatis. Untuk memenangkan peperangan, tipu muslihat pun diijinkan. Menurut Sun Tzu, peperangan adalah masalah hidup mati negara, sehingga jendral yang cerdas merupakan bintang nasib suatu negara. Seni berperang memastikan kestabilan dan kesejahteraan suatu negara.

Di masa Dinasti Han, walaupun secara formal mengadopsi konfusiusme, Han Fei Tzu memiliki pemikiran yang berbeda dengan Konfusius, ia memiliki pemikiran bahwa manusia memiliki keluhuran jiwa, tetapi mereka sering mencari keuntungan pribadi dan menghindari hukuman. Sehingga ia mengambil bentuk pemerintahan yang lebih ketat, dimana dibangun suatu sistem hukum yang memberikan hukuman terhadap perilaku yang tidak diinginkan. Hukuman ini juga berlaku untuk para pejabat, sehingga memastikan mereka bekerja demi kepentingan negara dibandingkan kepentingan pribadi.

Di bagian dunia yang lain, Demokrasi sedang berkembang di Athena, Yunani. Setelah mereka berhasil menjatuhkan pemimpin tiran, Setiap warga athena yang  memenuhi syarat memiliki hak mengambil keputusan. Tetapi pemimpin oleh rakyat ini juga sering juga korup dan tidak adil.

Socrates pemikir saat itu yang sering mempertanyakan kebijakan pemerintahan oleh rakyat ini, yang dianggap sering melanggar batas-batas keadilan dan keluhuran jiwa. Tampaknya demokrasi di awal kelahirannya penuh dengan carut-marut. Alih-alih mendengarkan Socrates, pemerintahan ini justru menghukum mati Socrates, karena dianggap menghasut rakyat.

Plato, yang melihat sendiri bagaimana ketika rakyat awam memimpin, justru tidak memberikan ketidak-adilan, salah satu korbannya adalah gurunya sendiri Socrates. Sehingga ia mencetuskan bahwa kekuasaan politik, harus diberikan kepada filsuf yang memiliki pengetahuan intelektual, etika dan moral. Menurut beliau, hingga filsuf menjadi pemimpin, kota Athena akan selalu dalam kondisi buruk. Plato mencetuskan Republik (res-public : urusan publik), dimana rakyat berdaulat dan negara dijalankan oleh perwakilan rakyat yang dipilih dari elit rakyat. Plato menyadari bahwa mendapatkan pemimpin dengan kualitas seperti ini sangat sulit, sehingga ia mendorong pendidikan untuk elite rakyat.

Aristoteles, juga murid dari Plato, mencetuskan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk politik. Ada 6 makhluk politik yang diidentifikasi oleh beliau, yang pada dasarnya dibagi menjadi 2 bentuk utama

Pemerintahan Efektif

– Monarki            : Dipimpin oleh satu orang

– Aristokrasi        : Dipimpin oleh beberapa orang

– Republik            : Dipimpin oleh banyak orang

Pemerintahan Korup

– Tiran                   : Dipimpin oleh satu orang

– Oligarki              : Dipimpin oleh beberapa orang

– Demokrasi        : Dipimpin oleh banyak orang

Beliau menekankan bahwa Republik ini adalah bentuk ideal dari pemerintahan, dan walaupun Demokrasi buruk, masih lebih baik dibandingkan Aristokrasi ataupun Monarki.

Sistem politik kuno ini mengajarkan banyak hal kepada kita:

– Bahwa pemerintahan oleh rakyat pun memiliki kelemahan, tetapi walaupun memiliki kelemahan, ini adalah sistem yang terbaik.

– Pemimpin dengan jiwa yang luhur dan memiliki kemampuan sangatlah penting

– Selain memilki pemimpin dengan jiwa yang luhur, suatu negara harus memiliki kekuatan dalam penegakan hukum dan menjaga kedaulatan.

Sedikit pesan sponsor, nanti pemilu pastikan teman-teman ikut ya, karena memang sistem politik yang baik perlu waktu dalam membangunnya. Dan politik yang efektif dan kuat sangat penting untuk kebaikan kita sebagai rakyat Indonesia

Dunia Semakin Rata

Image

Beberapa abad yang lalu, pelaut tidak berani berlayar terlalu jauh dari pantai, karena dunia itu datar, mereka tidak ingin jatuh di “ujung dunia”, dan hilang entah kemana.

Tetapi seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahun, manusia menyadari bahwa bumi itu bulat, pengetahuan ini membuka awal dari ekspedisi-ekspedisi besar dan mengawali era imperialisme eropa.

Tetapi berdasarkan penulis buku “The world is flat” Thomas L. Friedman, ia menemukan bahwa dunia itu sebenarnya datar atau setidaknya semakin lama semakin datar. Saya membaca bukunya sekitar 10 tahun yang lalu, pada saat itu belum terlalu jelas kata-katanya, tetapi tampaknya sekarang semakin masuk akal.

Tentu yang dimaksud dunia ini bukan bentuk bumi yang tidak terbantahkan lagi bentuknya bulat, dan tampaknya belum ada penelitian yang meng-klaim bumi menuju ke arah datar. Yang dimaksudkan oleh Thomas L. Friedman adalah tatanan dunia semakin lama semakin datar.

Dunia yang dahulu dikuasai oleh hirarki, penguasa-penguasa, diktaktor, perlahan-lahan mulai bergerak semakin datar. Contohnya:

– Organisasi semakin datar, tadinya perusahaan dari presiden direktur sampai ke staff jaraknya bisa sampai 15 jenjang, sekarang 5 pun sudah terlalu banyak.

– Tadinya berita dikuasai oleh kantor-kantor berita, saat ini setiap orang bisa melaporkan berita dan menyebarkannya melalui citizen jurnalistic dan social media.

– Perusahaan raksasa mulai dijungkalkan oleh “start-up” yang kreatif dan cepat

– Pemilik modal bukan lagi penguasa, karena mulai muncul mekanisme “crowd-sourcing” dimana perusahaan dibiayai oleh sekumpulan orang.

– Fenomena bit-coin juga cukup mengejutkan, sekelompok orang mampu membuat sistem mata uang, yang bahkan mengancam sistem mata uang konvensional.

Hal ini dimungkinkan karena semakin cepatnya informasi dan pengetahuan berkembang, selain itu teknologi juga memberikan peluang yang belum pernah diberikan sebelumnya. Contohnya :

– Teknologi smart-phone saat ini sangat kuat, berbekal smart-phone anda bisa membuat jurnalistik atau film dengan kualitas HD.

– Berbekal situs blog dan social media anda bisa mem-broadcast hasil karya anda nyaris ke seluruh penjuru dunia.

– Pemodelan 3D memungkinkan anda membuat prototip dengan sangat cepat

– Teknologi elektronik berkembang dengan sangat cepat, anda bisa membeli berbagai sensor, aktuator dengan mudah dari segala penjuru dunia.

Dan semakin lama semakin terasa efek dari dunia yang semakin rata ini:

– Anak-anak muda yang kreatif dapat keluar dari jeratan kemiskinan yang sebelumnya sangat sulit untuk ditembus

– Penguasa-penguasa feodal mulai ditinggalkan, digantikan oleh pemimpin yang mampu memberikan nilai-nilai, bahkan organisasi tanpa pemimpin.

– kepastian kerja semakin lama semakin hilang, digantikan peluang-peluang baru yang terus bermunculan.

– Karena cepatnya ilmu kita usang, semakin cepat juga kita ter-marginalkan dalam dunia kerja kita.

– Orang mulai bosan dengan birokrasi yang bertele-tele

– Dan sangat banyak lagi

 Saya yakin dunia yang semakin rata ini akan memberikan manfaat yang sangat besar kepada umat manusia, tetapi untuk beberapa orang yang saat ini berada pada puncak atau sudah nyaman harus sangat berhati-hati, misalnya pejabat di bidang swasta ataupun pemerintahan, pengusaha sukses, pns dan karyawan. Karena keseluruhan ekosistem pasti akan berubah dengan drastis, dengan tatanan dunia yang baru, cepat ataupun lambat, dan saya lebih yakin akan terjadi dalam waktu cepat. 

Dunia yang semakin rata ini sebenarnya merupakan tantangan yang menarik, tetapi jika kita salah dalam mengelolanya bisa menjadi malapetaka.

Jika saat ini sudah merasa nyaman, bersiap-siaplah atas perubahan yang terjadi, posisi anda saat ini yang menjadi keunggulan kompetitif anda, tidak akan memberikan keunggulan dalam waktu lama. Kemampuan kita untuk terus beradaptasi dan memberikan nilai lah yang akan terus memberikan perbedaan.

Tangan yang Tidak Kelihatan

Image

Pernahkah anda perhatikan rumah makan McD di sekitar rumah anda? Beberapa rumah makan MCD sangat ramai. Di lain pihak kita juga melihat sangat banyak rumah makan yang sepi sekali, orang yang masuk sangat sedikit, bahkan seringkali kosong.

Mungkin 10 tahun yang lalu, orang-orang akan berkata, pakai dukun, pakai jin, pakai jimat atau hal-hal mistik lainnya yang tidak kelihatan yang membuat orang-orang ini agar datang ke rumah makan tertentu. Saya ingat dahulu sekitar tahun 2000 saya mengunjungi McD di BIP, ramai sekali, sampai-sampai saya bercanda ke kakak saya, ini McD pakai jin satu kompi mungkin yah, sampai ramai seperti ini.

Tetapi pertanyaan ini sebenarnya masih membekas, karena tampaknya pengunjung rumah makan, toko, dll seperti bergerak tidak natural, mereka mengelompok. Dan sepertinya memang ada hal yang tidak kelihatan yang sedang terjadi. Tetap kalau jawabannya jin, kok ya kurang ilmiah.

Ternyata “Tangan yang Tidak Kelihatan” ini adalah disain dan fitur utama dari sistem ekonomi pasar yang dicetuskan oleh Adam Smith. Pelaku pasar, yaitu pembeli dan penjual dikendalikan oleh tangan yang tidak kelihatan, pembeli akan diarahkan penjual yang memberikan harga terbaik, sedangkan penjual akan memaksimalkan keuntungan dengan tertinggi. Proses yang sederhana inilah yang menjadi bangunan ekonomi kita.

Tangan yang tidak kelihatan ini akhirnya akan menjaga sebagian besar dalam keteraturan, berbagai tipe orang di dunia yang sangat berbeda-beda, mulai dari orang jahat, orang baik, orang suci, orang serakah dan lain-lain.

Sebagai contoh sederhana:

– Ada pengusaha yang sangat pelit, sehingga ia menggaji pegawainya sangat rendah, tangan yang tidak kelihatan ini akan memberitahu sang pegawai, bahawa ada pengusaha yang lain yang mau membayar lebih tinggi. Sehingga akhirnya pengusaha tersebut dipaksa oleh “sang tangan” untuk menaikkan gaji pegawai.

– Suatu hari pak Tani yang kebingungan, panen cabe berlimpah-limpah, tetapi ia tidak memiliki mobil untuk mengirimnya ke pasar, sang tangan akan memberitahu tengkulak bahwa ada cabe yang sangat banyak di desa, dan di kota saat ini sedang mahal, sehingga ia akan berusaha membawa mobil untuk membeli cabe pak Tani ke pasar. 

– Harga bawang merah saat ini sedang tinggi, “sang tangan” memberi sinyal ke pak Tani untuk menanam bawang.

Kemudian, kenapa sang tangan selalu memberi tahu kita ke McD, bukan ke toko yang menawarkan yang lebih murah? McD dengan segala daya upayanya telah berhasil membuat tangan ini mengarahkan kita agar selalu ke sana. Berbagai cara dilakukan ke McD:

– Membuat makanan yang enak, bersih dan gurih

– Menyediakan ruangan yang nyaman

– Memberikan “gengsi” kepada orang yang makan di sana

– Mempengaruhi keputusan kita melalui iklan-iklannya

– Memberikan hadiah-hadiah untuk anak-anak kita.

– dll.

Sehingga tangan ini, ketika kita lapar selalu diarahkan ke sana, jadi sebenarnya bukan sang jin yang mengarahkan kita ke sana.

Kekuatan “tangan yang tak kelihatan” ini sangatlah besar, seperti bisa dilihat tadi, orang yang kikir pun seringkali harus mengikuti kehendak “sang tangan”. Dan ia mampu mengendalikan jutaan bahkan miliaran orang.

Kemudian implikasinya buat saya apa?  Seperti sudah saya sebutkan kuasa dari tangan ini sangatlah besar, kita harus membuat tangan ini bekerja untuk kita, tapi jangan pergi ke dukun. Misalnya, ini misalnya:

– Jangan jadi orang yang menyebalkan, kalau kita menyebalkan sang tangan ini akan mengarahkan orang-orang untuk menghindari anda

– Tingkatkan potensi dan kemampuan, sehingga tangan ini akan mengarahkan orang yang membutuhkan kemampuan anda.

– dan lainnya, yang kira-kira membantu sang tangan ini mengarahkan hal-hal baik kepada anda.

Dan terakhir, Selamat Tahun Baru Imlek. Gong Xi Fa cai, semoga sang tangan membawakan kesejahteraan di tahun kuda ini :).

Ilusi nilai intrinsic

Image

Dalam ilmu ekonomi kita mengenal istilah nilai intrinsik, atau nilai sesungguhnya dari suatu barang. Yang sering dijadikan acuan umumnya adalah emas, harga emas sering dianggap sebagai nilai acuan yang tidak terpengaruh oleh inflasi. Jika harga emas rendah, orang sering mengatakan harga pasar under-value, sedang jika harga emas sedang tinggi, dikatakan over-value, dibandingkan nilai intrinsiknya.

Tetapi adakah sebenarnya harga sesungguhnya? Menurut pendukung ekonomi pasar, tidak ada istilahnya nilai intrinsik, bahkan emas. Dan kebetulan saya setuju dengan istilah ini, tidak ada nilai intrinsik. Tetapi seperti halnya ilusi, sangat menyakinkan, menyadari hal ini juga melalui “goncangan batin”.

Saya sering menganggap nilai suatu barang adalah harga yang dibutuhkan untuk membuatnya. untuk nasi goreng, harganya kira-kira ongkos tenaga kerja, harga beras, harga daging, bumbu-bumbu dan margin keuntungan. Semakin banyak porsinya, nilainya semakin mahal. Sehingga harga emas, kira-kira sama, adalah biaya produksi membuat emas.

Tetapi pendekatan ini biaya produksi sebagai nilai intrinsik juga kurang tepat, andaikan anda menjual nasi goreng yang tidak enak tentu orang-orang juga tidak mau beli, walaupun biaya pembuatannya mahal dan anda jual dengan harga murah. Orang tidak akan menghargainya, Jadi biaya pembuatan bukanlah nilai intrinsik.

Atau mungkin kita bisa bilang kalau begitu, sesuatu jika dibutuhkan oleh orang, nilai intrinsiknya tinggi? Hal ini juga gagal, karena air, udara adalah hal-hal yang sangat bernilai, tetapi nilainya rendah.

Tetapi kalau air di tengah padang gurun, ditawarkan pada orang yang hampir mati kehausan, pasti dia akan menukarkan dengan apapun yang ia miliki, bahkan jika ia memiliki 1 kg emas, saya yakin ia mau menukarkannya dengan 1 botol aqua. Karena ia sangat membutuhkan dan anda pemilik satu-satunya, sehingga barang menjadi sangat langka.

Jadi menurut pendapat saya nilai intrinsik ini adalah ilusi, tidak ada yang namanya nilai intrinsik. Nilai suatu barang adalah perbandingan antara persediaan dan permintaan. Semakin jarang dan semakin dibutuhkan semakin tinggi nilainya. Dan tentu saja nilainya bisa berubah sepanjang waktu.

Hal ini semakin diperkuat lagi dengan kejatuhan harga emas, harga emas yang jatuh menunjukkan bahwa, bahkan emas pun sangat terpengaruh oleh hukum permintaan dan penawaran, emas tidak lagi memiliki nilai intrinsik.

Setelah menyadari harga ini ditentukan penawaran dan permintaan, hal ini mulai menjadi jelas untuk saya, mengapa saham yang notabene hanya selembar kertas bisa berharga sangat mahal. Karena dengan saham ini anda memiliki hak untuk mendapatkan deviden, baik untuk saat ini dan saat mendatang.

Menyadari bahwa kertas(saham) bisa berharga semahal kertas, Hal ini juga membawa kemungkinan baru, jika harga kertas (saham)  bisa semahal emas, hal-hal yang tidak kelihatan dan abstrak/intangible, jika memberikan nilai dan sangat jarang ditemui saat ini, bisa juga semahal emas bahkan lebih.

Pengetahuan, persahabatan, komunikasi, dukungan, semangat, keyakinan, dan cinta adalah contoh hal-hal yang tidak memiliki nilai intrinsik, tetapi sangat bernilai untuk bekal hidup. Kualitas yang sangat dihargai oleh orang-orang yang mengerti di jaman material seperti saat ini.

Ketika kita mulai membahayakan hal-hal ini, untuk hal-hal lain yang bersifat material, kita haruslah hati-hati, jangan-jangan kita mengorbankan hal yang lebih berharga terhadap sesuatu yang kurang berharga.

Melalui tulisan ini saya ingin mengajak teman-teman untuk mencoba menghargai hal-hal intangible yang sebenarnya bisa jadi sangat berharga. Jangan tertipu oleh ilusi benda-benda yang bersifat material.

Blog at WordPress.com.

Up ↑