Kebebasan dan Tanggung Jawab

Statue-540x249

Kebebasan sering kali dikenal sebagai budaya barat, yang bersifat liberal. Apakah berarti kita tidak menyenangi kebebasan? Saya yakin sebagai manusia dan bangsa dewasa kita menginginkan adanya kebebasan, kebebasan berpendapat, kebebebasan berbicara, kebebasan menentukan nasib sendiri dan lain sebagainya. Mungkin itulah 70 tahun yang lalu Bapak bangsa kita berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan.

Kalau benar demikian mengapa kita sangat alergi terhadap istilah kebebasan atau liberal. Pertanyaan ini yang terus menggema di kepala saya, karena setelah saya cari-cari kebebasan ini memang sering kali jadi tujuan kita, tetapi mengapa kita tidak menyenangi liberalisasi?

Suatu pencerahan saya peroleh dari buku “Man Search for Meaning” dari Victor Frankl, beliau mengatakan:

Freedom, however, is not the last word. Freedom is only part of the story and half of the truth. Freedom is but the negative aspect of the whole phenomenon whose positive aspect is responsibleness. In fact, freedom is in danger of degenerating into mere arbitrariness unless it is lived in terms of responsibleness

Yang jika diterjemahkan artinya:

Kebebasan bukanlah kata yang terakhir. Kebebasan hanya merupakan bagian dari cerita dan setengah kebenaran. Kebebasan adalah aspek negative dari suatu fenomena yang aspek positifnya adalah tanggung jawab. Bahkan, kebebasan berada pada bahaya ketidakpastian, kecuali ia hidup dalam tanggung jawab.

Setelah saya renungi, saya tidak bisa lebih setuju dari kata-kata Victor Frankl ini, kebebasan dan tanggung jawab adalah satu kesatuan. Sebelum kita memiliki tanggung jawab yang memadai, kebebasan hanya akan membawa kita kepada bencana. Seperti anak kecil yang mengendarai mobil, kebebasan yang tidak bertanggung jawab akan membawa malapetaka. Sebaliknya juga benar, ketika kita mengekang kebebasan orang yang memiliki tanggung jawab, hal ini juga akan menyebabkan malapetaka.

Sehingga jika anda mendengar istilah liberal, anda bisa menganalisa apakah hal ini diletakkan dalam konteks yang benar, apakah ada tanggung jawab yang menyertainya. Kebebasan yang disertai rasa tanggung jawab adalah kebebasan yang tertinggi (dalam konteks di luar agama ya J).

Jika anda mencari kebebasan, coba cari sisi lainnya, sisi tanggung jawab, saya yakin anda akan menemukan kebebasan di dalamnya.  Tanggung Jawab adalah buah dari peradaban Timur, Kebebasan adalah buah dari budaya dari peradaban Barat, memeluknya, kita memeluk dunia.

Oleh karena itu muncul suatu inisiatif di Amerika untuk membangun Statue of Responsibility untuk mengimbangi Statue of Liberty yang sangat terkenal.

Picture taken from : http://tcdodenver.blogspot.co.id/

Advertisements

Harga dari Anonimitas

Pernahkah anda pulang kantor, di jalan bertemu dengan pengemudi yang ugal-ugalan? Tentu kita kesal sekali, sudah badan letih, tidak peduli sekali orang tersebut.

Saya yakin pernah, tetapi pernahkah anda duduk di sebelah orang yang menyetir dengan ugal-ugalan? Saya juga yakin anda pernah. Kalau pengalaman saya, umumnya orang yang mengendarai dengan ugal-ugalan ini adalah orang-orang yang sangat bertanggung jawab dan baik.

Tetapi mengapa mereka melakukan hal-hal itu saat berkendara? Mereka seperti orang yang sangat berbeda.

Menurut pendapat saya ini akibat dari anonimitas, saat berkendara, kita terlindungi oleh kaca film, dan berinteraksi dengan orang-orang yang sebagian besar tidak kita kenal. Sehingga kita menjadi “perfect stranger” untuk orang lain, kita menjadi kehilangan identitas.

Hal yang sama terjadi ketika segerombolan anak berkumpul bersama, mereka kehilangan identitasnya, dan identitas digantikan oleh identitas kelompok, mereka bisa menjadi sekelompok anak yang beringas, sangat berbeda dengan kehidupan sehari-hari.

Sehingga menurut pendapat saya, jangan pernah mengambil identitas dari seseorang, dengan meletakkannya di belakang layar. Karena ini akan merampas identitasnya, dan menjadikannya orang yang tidak bertanggung jawab. Ini berlaku untuk anak kita, teman kita, saudara dan team. Identitas adalah harga diri mereka, rampaslah maka kita akan menerima akibatnya.

Lebih Baik dari Gratis

Siapa sih yang nggak suka barang gratis? Tentu semua suka dong ya, tapi apakah ada sesuatu yang lebih baik dari gratis? Gila ajah, mana mungkin sesuatu lebih baik dari gratis?

Nah mungkin ini salah satu alasan kita bersyukur, kita kurang menghargai hal-hal yang sebenarnya lebih baik dari gratis. Karena sebenarnya banyak sekali hal-hal yang lebih baik dari gratis.

Saat ini banyak dari kita complain, barang-barang semakin mahal, sehingga tidak terjangkau. Tetapi kalau kita kembali mundur 10.000 tahun yang lalu, sebenarnya semua barang gratis, butuh makan tinggal ngambil dari hutan, butuh rumah, bahan-bahan tinggal ambil di hutan, butuh baju, tinggal ambil dari kulit hewan.

Tetapi apakah kehidupan leluhur kita ini lebih mudah dari saat ini? Secara logika tidak, karena walaupun gratis, mereka harus berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, bertahan dari berbagai ancaman.

Apalagi kalau kita butuh mobil, rumah, motor, sekolah, rumah sakit, ga ada yang jual.

Saat ini kalau kita butuh beras, tinggal bayar saja kita dapat beras ataupun butuh hal-hal lainnya.  Kalau kita mau beras gratis apakah bisa? Tentu saja bisa, kita tinggal cari tanah kosong, kita tanami padi pada saat waktunya tiba, kita akan memanen beras. Tetapi bisa saja biaya yang kita keluarkan akhirnya lebih mahal daripada beli beras di pasar.

Mungkin yang teman-teman maksudkan beras yang gratis, yang ga perlu menanam apakah ada? Tentu ada, coba kita mengemis beras kepada orang lain, saya yakin teman-teman bisa mendapatkan beras. Pasti kita akan berpikir, kalau itu saya juga tahu.

Oleh karena itu kita harus kembali menimbang, sebenarnya apa sih yang membuat benda itu jadi mahal, benda itu jadi mahal karena ada ketimpangan antara permintaan dan penawaran. Jika penawaran sedikit dan permintaan banyak, tentu harganya mahal.

Sehingga jika kita berharap mendapatkan barang yang gratis dan baik, ini akan sangat sulit, karena  permintaan yang besar menjadikan kita harus berebut dengan banyak orang, akibatnya biaya untuk berebut tadi lebih mahal daripada kalau kita beli di pasar.

Sehingga sekarang saya cukup menikmati hidup, bahwa barang-barang yang mahal itu, sebenarnya lebih baik dari gratis. Tentu kalau kita cukup bijaksana. Dan jika anda memiliki usaha, pastikan barang dan jasa yang anda sediakan, harus lebih baik dari gratis.

Sukses Bahagia

Seringkali parameter yang digunakan oleh kita untuk sukses adalah banyak harta. Tentu ini tidak salah, karena dengan memiliki banyak harta kita bisa melakukan banyak hal, kita bisa menjadi manusia yang merdeka.

Tetapi jika kita hanya fokus pada faktor eksternal seperti ini, resikonya sangatlah besar. Karena kita akan tiba di suatu tempat yang akhirnya menjadikan kita tidak bahagia dan juga tidak sukses.

Kenapa bisa demikian? Ini terkait erat fengan pergeseran industri dan sifat dasar kita sebagai manusia.

Secara umum pekerjaan dibagi menjadi dua, pekerjaan yang bersifat algoritmik dan pekerjaan yang bersifat kreatif.

Pekerjaan yang bersifat algoritmik adalah pekerjaan yang rutin dan dapat di prediksi, saat ini mendapatkan ancaman yang sangat besar dari komputer, karena pekerjaan tersebut bisa diselesaikan komputer dengan sangat cepat dan murah.

Pekerjaan yang saat ini masih sulit digantikan oleh komputer adalah pekerjaan-pekerjaan yang bersifat kreatif.  Pekerjaan yang bersifat baru yang belum pernah ada sebelumnya, atau pekerjaan yang bersifat troubleshooting secara kreatif.  Pekerjaan inilah yang ke depannya akan semakin dihargai, yang artinya semakin banyak penghasilan yang bisa anda peroleh melalui aktivitas yang kreatif.

Ketika kita terpaku terhadap sukses materi, otak kreativitas kita akan tercekik, karena kita hanya terpaku pada tujuan, reward yang bersifat eksternal. Akhirnya kita fokus ke tempat yang salah.

Pekerjaan kreatif membutuhkan banyak sekali energi, percobaan, kegagalan, pengulangan, perhatian pada detil dan banyak hal-hal yang sifatnya tidak instant. Seringkali momen paling penting adalah kegagalan, tetapi tidak ada orang yang mau membayar kegagalan kita. Yang ada kita dimarahin, sehingga semakin menghabiskan energi kita.

Sehingga kita perlu pendorong dari internal kita, dimana adanya keyakinan, fun, dimana kita bisa menghargai setiap moment yang ada, kita bisa melangkah ke tempat-tempat yang belum pernah terpetakan sebelumnya, sehingga lebih besar kemungkinan kita menghasilkan ide-ide yang baru dan segar.

Bahaya selanjutnya ketika kita hanya terpaku pada reward external, kita akan terpacu untuk mengejar mimpi orang lain, akhirnya jika kita sampai pada suatu posisi, ini bukanlah posisi yang kita inginkan.

Dari sini kita akan belajar, bahwa dengan menggelorakan api semangat dalam diri kita, akhirnya kita akan mencapai tempat yang kita inginkan dengan sukses yang lebih baik.

Godaan Kekuatan

power-tend-to-corrupt

Sebenarnya saya sempat frustasi dengan pikiran saya, karena dua kasus yang saya alami. Frustasi dalam arti kenapa saya selalu condong untuk menggunakan kekuatan dalam menyelesaikan permasalahan saya. Saya merasakan ada dorongan untuk menggunakan cara ini. Tetapi kenapa?

Ada dua kasus yang saya hadapi saat itu, kasus pertama adalah kasus bau sampah di rumah dan kasus yang kedua adalah adanya seseorang sebut saja John, petugas di rumah, yang tidak menjalankan tanggung jawabnya.

Keduanya membuat pusing, yang satu, developer perumahan yang sangat powerful dan yang kedua John less powerfull.

Saya harus bernegosiasi dengan mereka, dengan developer agar menghilangkan bau sampah dan John tadi agar bekerja sesuai dengan harapan.

Beberapa hari pikiran berkecamuk, bagaimana  cara menekan mereka agar menyepakati “hak-hak” saya, dan anehnya cara-cara yang terpikirkan ada penggunaan kekuatan, dan sangat mendebarkan memikirkan cara-cara tersebut, membuat frustasi dan sangat bersifat candu, membuat sulit tidur.

Pengalaman ini mengingatkan saya, saat saya memiliki musuh, saya akan merasakan ketidaknyamanan yang sama, tetapi bersifat candu untuk terus dipikirkan. Padahal dari teori yang ada, Interest haruslah dikedepankan, bukan kekuatan.

Hal ini menggoda saya untuk bertanya dalam hati saya, tampaknya ada suatu mekanisme yang sedang bekerja. Jika tidak, tidak mungkin ia memiliki konsistensi yang sedemikian tinggi, dan saya perhatikan hal yang sama terjadi pada beberapa orang. Dan bahkan keributan besar seringkali terjadi karena masalah kecil.

Hingga pada sore ini saya mendapatkan moment Aha!! Dan segera saya ambil catatan untuk merekamnya. Dan ajaibnya lagi jawaban ini sebenarnya sudah ada, dari buku-buku yang saya baca sebelumnya.

Struktur otak Manusia ini sebenarnya adalah perkembangan dari hasil evolusi (untuk yang tidak percaya teori evolusi, saya tidak pada posisi mempertahankan teori ini :))

Perkembangan otak kita dibagi menjadi 3 bagian besar yaitu:

  • Otak Reptilia, pada bagian ini adalah fungsi dasar kehidupan dijalankan, detak jantung, rasa lapar, bernapas. Sangat sedikit kekuatan rasio kita yang mampu mengendalikannya
  • Otak Mamalia, otak ini lebih terkait cara kita bertahan hidup. Singkatnya Fight (lawan) atau Flight (kabur/lari). Perlu usaha yang sangat besar bagi rasio kita untuk mengendalikannya. Tanpa tujuan yang jelas hampir pasti pikiran sadar kita kalah menghadapi bagian ini.
  • Bagian terakhir adalah otak manusia atau neo cortex, bagian ini tentu adalah bagian otak yang hanya dimiliki oleh manusia, sehingga memungkinkan manusia berkreasi dan berpikir secara rasional.

Otak Manusia/Rasio sangatlah bermanfaat bagi kemajuan spesies ini, Tetapi ketika menghadapi otak Reptilia, saya yakin 9 dari 10 pertarungan dimenangkan oleh otak reptilia.

Sedangkan otak Mamalia walaupun tidak se kuat otak reptilia ia sangat kuat. Apabila sudah tumbuh besar, 8 dari 10 pertarungan dimenangkan otak mamalia.

Tetapi ada satu kesempatan yang menarik, ketika otak Mamalia ini masih sedang tumbuh, saat perasaan bergejolak masih cukup tenang, otak rasio dapat mengalahkannya dengan rasio yang cukup mencengangkan, 8 dari 10 pertarungan dapat dimenangkan otak manusia.

Berdasarkan theori tersebut, saya semakin yakin bahwa sebenarnya sangatlah sulit untuk menahan kita untuk menggunakan kekuatan, dengan kesulitan yang sama ketika kita menahan ketakutan kita. Walaupun dapat dikendalikan, tidak mudah mengendalikannya, karena secara fisik, bagian amygdala (otak mamalia) memfilter semua pikiran sebelum masuk ke bagian rasio kita yang disebut neo cortex.

Seringkali jika bagian ini amygdala ini sudah terusik, sangat sulit untuk menghentikannya, karena rasio bahkan tidak diberikan kesempatan olehnya untuk tampil.

Pengalaman ini memberikan pelajaran bagi saya, sangat penting untuk mendeteksi kemarahan sejak sangat awal, dan kita harus berkonsentrasi mengendalikannya sejak sangat awal, saat kita masih memiliki kesempatan. Ketika pun kita sudah sangat marah, amygdala ini yang harus menjadi konsentrasi kita dalam menghentikan kemarahan, yaitu dengan pikiran yang menenangkan, bukan pikiran yang rasional tapi rumit untuk di mengerti amygdala.

Hal yang sama pun terjadi terhadap perlakuan orang lain, jangan sampai kita mengusik amygdala ini, kita harus memastikan mereka tetap terlelap, dengan cara tentu saja dengan tidak memancing proses lawan atau lari, proses kemarahan dan ketakutan pada orang yang kita ajak untuk berinteraksi.

Dan itulah mungkin yang telah dipelajari oleh rakyat Indonesia, dimana kesopan santunan, tingkah laku harus dijaga. Sifat-sifat arogan, kesombongan, provokasi, acuh tak acuh membangunkan naga tidur. Yang menyebabkan pikiran kita tersabotase amygdala.

Demikian juga, saat ada rekan kita yang marah ataupun ketakutan, hal yang penting kita berikan adalah dukungan  dan menenangkannya. Janganlah kita berharap agar ia berpikir secara rasional, karena saat itu, pikiran mereka telah tersandera.

Tentu masalah saya tidak selesai sampai di sini, saat ini rumah saya masih bau, tp saya mulai berpikir untuk menghindari penggunaan kekuatan ataupun intimidasi. Karena saya akhirnya menyadari bahwa kecenderungan berpikir seperti ini adalah cara-cara primitive, ketika nenek moyang kita masih berada di tengah hutan dengan ancaman yang luar biasa.

Begitu pula John, setelah berkomunikasi ia mengajukan untuk mengundurkan diri, walaupun komunikasi ini tidak memberikan hasil sesuai harapan, tetapi sisi positifnya adalah saya tidak terjebak pada kemarahan dan upaya-upaya penekanan ataupun intimidasi.

Sehingga janganlah malu jika sangat sulit menahan agresi, tetapi ingatlah ada reward yang sangat besar mènanti ketika kita bisa memghadapi response lawan atau lari kita secara positif. Ingatlah stress adalah pembunuh yang mematikan, jika kita bisa mengurangi dampaknya akibatnya jauh lebih bermanfaat daripada berhenti dari kebiasaan merokok.

Uang, Tanggung Jawab dan Karakter

social-responsibility

Images taken from aishtechnologies.com

Uang adalah Pelayan yang sangat baik, tetapi Tuan yang sangat buruk

Setiap orang saat ini tampaknya sangat sibuk mencari uang, dan tentu ini adalah hal yang sangat baik untuk dilakukan, karena mencari nafkah adalah hal yang sangat terhormat yang selalu di dorong oleh berbagai keyakinan agama, mencari nafkah adalah bagian dari ibadah.

Kemudian kenapa orang mencari uang?  Karena uang ini memberikan kebebasan kita dalam memenuhi kebutuhan kita dan keluarga kita.  Karena kita dengan mudah membeli daging, mobil, rumah ataupun mempekerjakan orang-orang. Uang menyederhanakan segala prosesnya, bayangkan jika kita harus menggunakan cara-cara barter, pasti akan repot sekali. Uang melakukan kuantifikasi nilai-nilai barang dan jasa, sehingga kita dapat bertransaksi dengan mudah.

Kita dapat melakukan hal-hal yang hebat dengan uang, kita bisa berderma, membangun komunitas, membuka lapangan pekerjaan baru dan hal-hal yang baik, yang tidak bisa kita lakukan tanpa adanya uang, karena prosesnya akan menjadi sangat rumit sehingga kita akan tenggelam didalamnya.

Tetapi ada masalah yang sangat dalam dengan pendekatan ini, jika kita tidak berhati-hati tidak semua bisa dihargai dengan uang, kejujuran, kebahagian, karakter, persahabatan dan lain sebagainya. Uang ini hanya seperti fenomena gunung es, yang kelihatan hanya sebagian kecil dari keseluruhannya. Hanya sebagian kecil dari kehidupan kita.

Hal-hal ini menyebabkan dua masalah utama dengan uang:

  • Uang mendorong orang menjadi individualis, karena mendorong kita hanya untuk memaksimalkan keuntungan.
  • Uang mendorong kita menjadi tidak bertanggung jawab, karena melupakan sisi kualitatif hanya berfokus pada sisi kuantitatif

Karena itu ketika kita menjadikan uang ini sebagai tujuan, pasti dan jelas kita akan mengalami masalah yang luar biasa, karena kita melihatnya secara imparsial (tidak utuh). Kita akan frustasi, seperti jika anda tersesat di kota dengan peta yang salah yang anda anggap  benar. Anda akan stress karena segala sesuatu tidak berjalan sesuai dengan harapan anda.

Tetapi jika anda menyadari bahwa uang dan keekonomian merupakan bagian dari kehidupan ini, bukan keseluruhan, anda dapat menggunakannya sesuai dengan perannya, tidak mengecilkan ataupun membesar-besarkannya.  Anda bisa memanfaatkannya dengan bertanggung jawab, tidak untuk menghancurkan lingkungan atau kemanusiaan, tetapi membangunnya.

Oleh karena itu, ketika anda ingin membangun keluarga, team ataupun lingkungan anda, pastikan anda membangun karakter anda dan orang-orang di sekitar anda, karena hal inilah yang memberikan hasil lebih holistic. Mengarahkan orang-orang hanya untuk mendapatkan reward ekonomi, tanpa membangun karakter, hanya mendorong mereka ke arah ke serakahan dan sifat yang tidak bertanggung jawab yang cepat atau lambat akan menghancurkan anda, orang-orang di sekitar mereka dan diri mereka sendiri.

Ketika anda membangun karakter, orang akan didorong menciptakan nilai-nilai, sehingga output akan meningkat dan akan mensejahterakan orang-orang dengan lebih baik. Tidak ada yang dapat menggantikan karakter, bahkan mekanisme kontrol dan hukum hanya mengurangi efeknya buruk dari tiadanya karakter yang memadai.

Dan janganlah takut anda akan mati konyol di dunia ini dengan cara-cara yang benar, tetapi bukan berarti saya menganjurkan anda untuk menjadi lugu.  Dengan membangun karakter, saya yakin hidup kita akan lebih bernilai, jauh dari stress, lebih sehat dan menyenangkan untuk dijalankan. Mungkin anda tidak memiliki uang ataupun kekuasaan yang luar biasa besar, tetapi anda akan bercukupan dan lebih sejahtera dibanding mereka. Seperti pepatah jawa, Ini jaman gila, yang tidak gila tidak kebagian. Tetapi seberuntungnya orang gila, masih lebih beruntung orang yang ingat.

Kisah Sepotong Kue

piece of cake

Ini pertanyaan yang sering jadi pertanyaan, mana yang kamu pilih potongan kue yang kecil dari kue yang besar atau potongan kue yang besar dari kue yang kecil.

Tentunya kue yang saya maksud adalah rejeki, reputasi, hadiah dan lain-lain.

Tentu secara natural kita akan menjawab sama saja, karena volumenya sama. Tetapi dalam dunia nyata, kita cenderung memilih potongan kue yang besar dari kue yang kecil, syukur-syukur dari kue yang besar. Karena kita pasti akan merasa memberikan kontribusi paling besar, ya pastilah, karena kita tahu semua pekerjaan kita dan kurang menghargai pekerjaan orang lain, karena kita tidak mengetahui pekerjaan rekan-rekan kita.

Tetapi implikasi hal ini akan sangat luar biasa, rekan-rekan anda akan merasa diperlakukan tidak adil dan di eksploitasi. Akibatnya orang-orang akan meninggalkan anda, yang akhirnya kita akan lelah memulai siklus membangun yang sangat melelahkan dan menghabiskan energi.

Sebaliknya jika anda memilih mengambil bagian yang kecil dari kue yang kecil atau yang besar, orang-orang akan senang bekerjasama dengan anda, apalagi jika mereka mendapatkan hasil yang layak atau lebih dari layak. Orang-orang akan berusaha memberi bantuan kepada Anda, mereka bahkan bisa jadi “memaksa” memberi bantuan kepada Anda. Mereka akan menilai anda orang yang bisa dipercaya, tidak serakah dan Produktif.

Jika sudah begini ceritanya, anda bisa terus memberikan manfaat kepada lingkungan dengan memberikan layanan yang bermanfaat, menyenangkan mitra Anda, dan memberikan manfaat bagi diri anda sendiri.

Kue anda bisa terus anda perbesar dan terus perbesar, tanpa anda menjadi overloaded, karena ada tangan-tangan yang siap membantu anda. Tentu hal tidak akan semudah ini, tapi demikian kira-kira idenya.

Sebagai gambaran, starbuck hanya mendapatkan margin 7% dalam setahun artinya ia hanya mendapatkan sebagian kecil dari modal yang ditanamkan. Karena sebagian besar pendapatan yang ia peroleh (kue) ia kembalikan ke stakeholder, konsumen dengan produk yang berkualitas, karyawan dengan gaji yang memuaskan, petani dengan harga jual yang adil, pemilik gedung dengan biaya sewa, dll. Dengan ini dia mendapat kesetiaan dari karyawannya, dari petaninya, dari pembelinya. Bahkan mal2 dengan senang hati memberikan lokasi premium untuknya, dan orang2 berbondong-bondong memberikan modalnya melalui bursa saham.

Kemudian implikasinya buat saya apa? Saya nggak punya warung starbuck! Jika kita bekerjasama, jangan terlalu egois untuk mendapatkan hasil terbesar, baik secara finansial, reputasi atau kredit. Kembalikan keuntungan ini kepada rekan-rekan kita, customer kita, dan stakeholder kita. Dan saya perhatikan hampir kebanyakan unit usaha dan orang yang sukses melakukan hal ini, memberikan nilai yang luar biasa, dengan harga “value deal”, harga barang atau jasa dibawah nilai yang kita peroleh

Saya percaya, dengan pedekatan ini semua orang diuntungkan dan kita akan melihat pertumbuhan yang eksponensial, penuh rasa percaya dan kita bisa tetap hidup dalam idealisme kita yang menyenangkan.

Satu hal yang paling penting yang perlu dicatat adalah seringkali biaya yang paling mahal adalah keserakahan, salah satu energy paling hitam dan paling kuat, semakin dipenuhi semakin kuat dan ganas. Dan membuat kita semakin menderita, inilah asal muasal kehancuran. Jika ia berhasil dikendalikan, kue kecil anda seringkali cukup, bahkan masih bisa dibagi lagi.

Selamat berjuang kawan, semoga usaha anda dalam keluarga, perusahaan ataupun bisnis anda sendiri terus berkembang dengan luar biasa dan sehat. Tentu tidak mudah, tapi ini masih cara yang termudah yang saya ketahui.

Ket : Gambar diambil dari http://www.western-ujb.com

Energy Hitam

dark-energy

Untuk menggerakkan segala sesuatu di dunia ini selalu dibutuhkan energi, baik dunia fisik maupun dunia non fisik. Contoh sederhana adalah mobil untuk menggerakkannya diperlukan energi. Demikian pula dunia non fisik seperti organisasi untuk menjalankannya diperlukan energi mental pelakunya, untuk menjaganya tetap bekerja secara efektif dan efisien.

Secara umum saya membedakan menjadi dua tipe sumber energi:

  • sumber energi hitam yang murah tetapi kotor, tidak lestari dan dalam jangka panjang dayanya sangat merusak
  • sumber energi putih yang lebih mahal, lestari dan tidak memberi kerusakan jangka panjang.

Saya tidak ingin membahas lebih jauh terkait sumber energi hitam di dunia fisik, tetapi analoginya sangat menarik di bandingkan dengan dunia non-fisik.

Seperti kita kenal, minyak bumi ini adalah sumber energi yang kotor, segera habis dan kerusakannya terhadap lingkungannya sangat luar biasa mengakibatkan badai, kenaikan suhu bumi dan polusi udara.

Tetapi sumber energi ini terus menerus digunakan oleh orang, alasannya karena murah. Padahal kita akan membayar akibatnya di belakang.

Saat ini mulai muncul energi terbarukan, energi putih, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air, sel surya, energi angin dll. Bersih karena tidak menghasilkan polusi. Tetapi harganya lebih tinggi, dan membutuhkan keterampilan dan teknologi untuk membuatnya berhasil. Tetapi kita dibebaskan dari konsekuensi seperti pemanasan global dan kerusakan lingkungan.

Di sinilah kita mulai masuk ke pokok pembahasan kita. Dalam organisasi untuk menggerakkan organisasi sebenarnya ada dua Sumber energi, energi hitam melalui intimidasi, penyuapan, manipulasi, eksploitasi, beckingan dan berbagai hal negative lainnya. Tentu saya tidak mengatakan cara-cara ini tidak efektif, seringkali sangat efektif. Karena ini adalah mainstream pengelolaan organisasi. Bahkan kita akan dianggap tidak efektif bila tidak memiliki kemampuan tersebut. Godaan untuk menggunakannya pun luar biasa, karena mudah dilakukan dan hasilnya pun langsung terasa.

Tetapi akibat negatif nya juga luar biasa, hingga satu titik kepercayaan akan sangat rendah, kreativitas terpasung, kita menjadi muak,depresi dan kehilangan produktivitas persis seperti perubahan iklim akibat penggunaan energi kotor.

Tetapi saat ini adalah saat yang luar biasa, mulai muncul sumber-sumber energi terbarukan dalam organisasi. Melalui empati,trust,  komunikasi yang terbuka, teknologi, kemampuan mendengarkan, strategi yang efektif, operasional yang efisien dan kerjasama win-win solution. Yang akan mengembalikan peran manusia sebagai manusia produktif tanpa harus kehilangan jiwanya. Memang energi ini mahal dan tidak mudah untuk diproduksi layaknya sumber energi putih lainnya, tetapi ia dapat terus diperbaharui dan dikembangkan melalui partisipasi aktif, dan yang lebih penting, tidak merusak jiwa organisasi.

Kita mungkin akan merasa apatis dengan cara-cara ini, seperti layaknya utopia yang tidak akan terwujud dan dengan menjalankan cara-cara bersih ini cepat atau lambat kita yang akan tersingkir.tetapi menurut saya ini keyakinan yang salah.

Saat ini kita mungkin minoritas, tetapi keyakinan saya, cepat atau lambat energi jenis ini akan menggantikan energi hitam yang kita gunakan. Energi putih yang lestari dan dapat terus berkembang.

Jika anda penggemar film anda akan melihat bagaimana Skywalker tergoda menggunakan energi hitam sehingga menjadi Darth Vadder yang akhirnya ikut hancur bersamanya. Mungkin awalnya untuk tujuan yang yang mulia tapi kekuatannya sangat merusak. Hal yang sama dapat terjadi pada diri kita jika kita mulai tergoda menggunakan energi ini.

Keterangan Gambar : Black Energy, diambil dari dailygalaxy.com

Dunia yang Terbalik

upside-down2

Ket : Gambar dari film upside-down

Kenapa saya sebut dunia yang ter balik, karena seringkali yang diajarkan di sekolah, atau hal-hal yang kita rasakan natural seringkali justru berseberangan dengan “kebenaran”, setidaknya versi saya.

Kita ambil contoh sederhana, seringkali kita berpikir ahli komunikasi yang hebat adalah orang yang mampu merangkai kata-kata yang cerdas, diucapkan dengan nada yang tepat, dan dengan gerak-gerik yang tepat. Tentu menurut saya hal-hal tersebut adalah penting, tapi sifatnya lebih cenderung sekunder.  Dalam seni komunikasi, hal yang terpenting adalah empati, bagaimana kita melihat dari sisi pendengar dan  bisa mengerti  hal-hal sesuai sudut pandang pendengar dan  akhirnya kita mengerti kebutuhan pendengar. Dan akhirnya kehebatan komunikasi dari seseorang bukan lagi diukur dari kemampuannya berbicara, tetapi pada kemampuannya mendengarkan.

Seringkali kita menilai pengusaha, adalah orang yang serakah, dan penuh kecurangan. Dan hanya pengusaha yang curang lah yang bisa berhasil. Sehingga seringkali pengusaha dianggap cukong-cukong yang siap menghisap kekayaan. Tentu jika kita cari contoh tidak terhingga pengusaha yang sifatnya demikian. Tetapi kalau kita lihat lebih lanjut, banyak sekali pengusaha berusaha menginvestasikan waktunya, pemikirannya, hartanya bahkan kesehatannya untuk bisa memberikan manfaat kepada lingkungan sekitar tanpa ada jaminan komunitas akan mau menerima layanan mereka. Misalkan saja pengusaha warteg, tukang sate, tukang laundry, mereka menyiapkan sate tanpa ada jaminan ada yang membeli. Mereka juga harus memiliki empathy yang tinggi, karena mereka harus menyediakan layanan yang sesuai dengan kebutuhan customer. Pengusaha  yang baik tentu saja seorang altruis dan empathy yang akan membawa dunia menjadi lebih baik.

Sejak kecil kita selalu bermimpi bahwa kita bisa mengubah dunia dengan menghasilkan hal-hal yang besar, tetapi berdasarkan pengalaman saya hal-hal besar hanya bisa terjadi bila secara konsisten kita melakukan hal-hal kecil dengan cara yang benar. Dalam hal perumpamaan, seperti membangun anak tangga. Jika kita berpikir melompat atap rumah adalah sulit, tetapi jika kita membangun setahap demi setahap anak tangga, naik ke atap rumah tidaklah sulit.  Sehingga hal-hal besar terjadi bila kita melakukan hal-hal kecil secara konsisten.  Tidak ada hal besar yang bisa kita lakukan seperti layaknya superman.

Dunia ini tidak compatible dengan nilai-nilai luhur seperti kejujuran,  orang jujur sering menjadi korban orang licik. Menurut saya bekerja di luar prinsip-prinsip luhur hanya akan memberikan keuntungan sesaat, setelah itu kita akhirnya harus menanggung akibatnya berlipat-lipat. Mungkin awalnya orang yang lurus akan menderita, tetapi akhirnya yang berbuat curang dan licik akan menerima akibatnya berkali-kali lipat.

Hemat pangkal kaya, salah satu ajaran yang tidak lekang oleh jaman. Tentu jika kita berhemat dalam hal-hal yang bersifat konsumtif akan sangat baik. Tetapi jangan lupa untuk selalu berinvestasi, baik pada instrument financial seperti saham, tanah, emas  dan kepada manusia, sesama kita, kamu tidak mampu, keluarga kita, kolega kita dan bahkan diri kita sendiri. Jika kita berani berinvestasi, pasti kita akan kaya.

Dalam dunia bisnis, seringkali kita berpikiran bahwa strategi yang hebat adalah strategi yang lengkap dan komprehensif. Pada kenyataannya strategi yang hebat adalah strategi yang focus terhadap hal-hal yang penting, bukan yang panjang dan lebar dan bertele-tele. Karena strategi akhirnya harus memilih dari yang baik dan yang terbaik. Strategi bukanlah mengenai seberapa lengkap, tetapi seberapa tajam.

Oleh karena itulah saya mengatakan bahwa dunia ini seringkali terbalik, kita perlu terus belajar dan belajar baik dari ilmu pengetahuan maupun dunia metafisik melalui agama agar kita tidak tersesat dan terkungkung pada pandangan-pandangan kita yang salah, yang akhirnya menjadi penjara kita.

Dan akhirnya dengan mengetahui kebenaran, kebenaran akan membebaskan kita.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑