Harga dari Anonimitas

Pernahkah anda pulang kantor, di jalan bertemu dengan pengemudi yang ugal-ugalan? Tentu kita kesal sekali, sudah badan letih, tidak peduli sekali orang tersebut.

Saya yakin pernah, tetapi pernahkah anda duduk di sebelah orang yang menyetir dengan ugal-ugalan? Saya juga yakin anda pernah. Kalau pengalaman saya, umumnya orang yang mengendarai dengan ugal-ugalan ini adalah orang-orang yang sangat bertanggung jawab dan baik.

Tetapi mengapa mereka melakukan hal-hal itu saat berkendara? Mereka seperti orang yang sangat berbeda.

Menurut pendapat saya ini akibat dari anonimitas, saat berkendara, kita terlindungi oleh kaca film, dan berinteraksi dengan orang-orang yang sebagian besar tidak kita kenal. Sehingga kita menjadi “perfect stranger” untuk orang lain, kita menjadi kehilangan identitas.

Hal yang sama terjadi ketika segerombolan anak berkumpul bersama, mereka kehilangan identitasnya, dan identitas digantikan oleh identitas kelompok, mereka bisa menjadi sekelompok anak yang beringas, sangat berbeda dengan kehidupan sehari-hari.

Sehingga menurut pendapat saya, jangan pernah mengambil identitas dari seseorang, dengan meletakkannya di belakang layar. Karena ini akan merampas identitasnya, dan menjadikannya orang yang tidak bertanggung jawab. Ini berlaku untuk anak kita, teman kita, saudara dan team. Identitas adalah harga diri mereka, rampaslah maka kita akan menerima akibatnya.

Advertisements

Lebih Baik dari Gratis

Siapa sih yang nggak suka barang gratis? Tentu semua suka dong ya, tapi apakah ada sesuatu yang lebih baik dari gratis? Gila ajah, mana mungkin sesuatu lebih baik dari gratis?

Nah mungkin ini salah satu alasan kita bersyukur, kita kurang menghargai hal-hal yang sebenarnya lebih baik dari gratis. Karena sebenarnya banyak sekali hal-hal yang lebih baik dari gratis.

Saat ini banyak dari kita complain, barang-barang semakin mahal, sehingga tidak terjangkau. Tetapi kalau kita kembali mundur 10.000 tahun yang lalu, sebenarnya semua barang gratis, butuh makan tinggal ngambil dari hutan, butuh rumah, bahan-bahan tinggal ambil di hutan, butuh baju, tinggal ambil dari kulit hewan.

Tetapi apakah kehidupan leluhur kita ini lebih mudah dari saat ini? Secara logika tidak, karena walaupun gratis, mereka harus berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, bertahan dari berbagai ancaman.

Apalagi kalau kita butuh mobil, rumah, motor, sekolah, rumah sakit, ga ada yang jual.

Saat ini kalau kita butuh beras, tinggal bayar saja kita dapat beras ataupun butuh hal-hal lainnya.  Kalau kita mau beras gratis apakah bisa? Tentu saja bisa, kita tinggal cari tanah kosong, kita tanami padi pada saat waktunya tiba, kita akan memanen beras. Tetapi bisa saja biaya yang kita keluarkan akhirnya lebih mahal daripada beli beras di pasar.

Mungkin yang teman-teman maksudkan beras yang gratis, yang ga perlu menanam apakah ada? Tentu ada, coba kita mengemis beras kepada orang lain, saya yakin teman-teman bisa mendapatkan beras. Pasti kita akan berpikir, kalau itu saya juga tahu.

Oleh karena itu kita harus kembali menimbang, sebenarnya apa sih yang membuat benda itu jadi mahal, benda itu jadi mahal karena ada ketimpangan antara permintaan dan penawaran. Jika penawaran sedikit dan permintaan banyak, tentu harganya mahal.

Sehingga jika kita berharap mendapatkan barang yang gratis dan baik, ini akan sangat sulit, karena  permintaan yang besar menjadikan kita harus berebut dengan banyak orang, akibatnya biaya untuk berebut tadi lebih mahal daripada kalau kita beli di pasar.

Sehingga sekarang saya cukup menikmati hidup, bahwa barang-barang yang mahal itu, sebenarnya lebih baik dari gratis. Tentu kalau kita cukup bijaksana. Dan jika anda memiliki usaha, pastikan barang dan jasa yang anda sediakan, harus lebih baik dari gratis.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑