Sukses Bahagia

Seringkali parameter yang digunakan oleh kita untuk sukses adalah banyak harta. Tentu ini tidak salah, karena dengan memiliki banyak harta kita bisa melakukan banyak hal, kita bisa menjadi manusia yang merdeka.

Tetapi jika kita hanya fokus pada faktor eksternal seperti ini, resikonya sangatlah besar. Karena kita akan tiba di suatu tempat yang akhirnya menjadikan kita tidak bahagia dan juga tidak sukses.

Kenapa bisa demikian? Ini terkait erat fengan pergeseran industri dan sifat dasar kita sebagai manusia.

Secara umum pekerjaan dibagi menjadi dua, pekerjaan yang bersifat algoritmik dan pekerjaan yang bersifat kreatif.

Pekerjaan yang bersifat algoritmik adalah pekerjaan yang rutin dan dapat di prediksi, saat ini mendapatkan ancaman yang sangat besar dari komputer, karena pekerjaan tersebut bisa diselesaikan komputer dengan sangat cepat dan murah.

Pekerjaan yang saat ini masih sulit digantikan oleh komputer adalah pekerjaan-pekerjaan yang bersifat kreatif.  Pekerjaan yang bersifat baru yang belum pernah ada sebelumnya, atau pekerjaan yang bersifat troubleshooting secara kreatif.  Pekerjaan inilah yang ke depannya akan semakin dihargai, yang artinya semakin banyak penghasilan yang bisa anda peroleh melalui aktivitas yang kreatif.

Ketika kita terpaku terhadap sukses materi, otak kreativitas kita akan tercekik, karena kita hanya terpaku pada tujuan, reward yang bersifat eksternal. Akhirnya kita fokus ke tempat yang salah.

Pekerjaan kreatif membutuhkan banyak sekali energi, percobaan, kegagalan, pengulangan, perhatian pada detil dan banyak hal-hal yang sifatnya tidak instant. Seringkali momen paling penting adalah kegagalan, tetapi tidak ada orang yang mau membayar kegagalan kita. Yang ada kita dimarahin, sehingga semakin menghabiskan energi kita.

Sehingga kita perlu pendorong dari internal kita, dimana adanya keyakinan, fun, dimana kita bisa menghargai setiap moment yang ada, kita bisa melangkah ke tempat-tempat yang belum pernah terpetakan sebelumnya, sehingga lebih besar kemungkinan kita menghasilkan ide-ide yang baru dan segar.

Bahaya selanjutnya ketika kita hanya terpaku pada reward external, kita akan terpacu untuk mengejar mimpi orang lain, akhirnya jika kita sampai pada suatu posisi, ini bukanlah posisi yang kita inginkan.

Dari sini kita akan belajar, bahwa dengan menggelorakan api semangat dalam diri kita, akhirnya kita akan mencapai tempat yang kita inginkan dengan sukses yang lebih baik.

Advertisements

Godaan Kekuatan

power-tend-to-corrupt

Sebenarnya saya sempat frustasi dengan pikiran saya, karena dua kasus yang saya alami. Frustasi dalam arti kenapa saya selalu condong untuk menggunakan kekuatan dalam menyelesaikan permasalahan saya. Saya merasakan ada dorongan untuk menggunakan cara ini. Tetapi kenapa?

Ada dua kasus yang saya hadapi saat itu, kasus pertama adalah kasus bau sampah di rumah dan kasus yang kedua adalah adanya seseorang sebut saja John, petugas di rumah, yang tidak menjalankan tanggung jawabnya.

Keduanya membuat pusing, yang satu, developer perumahan yang sangat powerful dan yang kedua John less powerfull.

Saya harus bernegosiasi dengan mereka, dengan developer agar menghilangkan bau sampah dan John tadi agar bekerja sesuai dengan harapan.

Beberapa hari pikiran berkecamuk, bagaimana  cara menekan mereka agar menyepakati “hak-hak” saya, dan anehnya cara-cara yang terpikirkan ada penggunaan kekuatan, dan sangat mendebarkan memikirkan cara-cara tersebut, membuat frustasi dan sangat bersifat candu, membuat sulit tidur.

Pengalaman ini mengingatkan saya, saat saya memiliki musuh, saya akan merasakan ketidaknyamanan yang sama, tetapi bersifat candu untuk terus dipikirkan. Padahal dari teori yang ada, Interest haruslah dikedepankan, bukan kekuatan.

Hal ini menggoda saya untuk bertanya dalam hati saya, tampaknya ada suatu mekanisme yang sedang bekerja. Jika tidak, tidak mungkin ia memiliki konsistensi yang sedemikian tinggi, dan saya perhatikan hal yang sama terjadi pada beberapa orang. Dan bahkan keributan besar seringkali terjadi karena masalah kecil.

Hingga pada sore ini saya mendapatkan moment Aha!! Dan segera saya ambil catatan untuk merekamnya. Dan ajaibnya lagi jawaban ini sebenarnya sudah ada, dari buku-buku yang saya baca sebelumnya.

Struktur otak Manusia ini sebenarnya adalah perkembangan dari hasil evolusi (untuk yang tidak percaya teori evolusi, saya tidak pada posisi mempertahankan teori ini :))

Perkembangan otak kita dibagi menjadi 3 bagian besar yaitu:

  • Otak Reptilia, pada bagian ini adalah fungsi dasar kehidupan dijalankan, detak jantung, rasa lapar, bernapas. Sangat sedikit kekuatan rasio kita yang mampu mengendalikannya
  • Otak Mamalia, otak ini lebih terkait cara kita bertahan hidup. Singkatnya Fight (lawan) atau Flight (kabur/lari). Perlu usaha yang sangat besar bagi rasio kita untuk mengendalikannya. Tanpa tujuan yang jelas hampir pasti pikiran sadar kita kalah menghadapi bagian ini.
  • Bagian terakhir adalah otak manusia atau neo cortex, bagian ini tentu adalah bagian otak yang hanya dimiliki oleh manusia, sehingga memungkinkan manusia berkreasi dan berpikir secara rasional.

Otak Manusia/Rasio sangatlah bermanfaat bagi kemajuan spesies ini, Tetapi ketika menghadapi otak Reptilia, saya yakin 9 dari 10 pertarungan dimenangkan oleh otak reptilia.

Sedangkan otak Mamalia walaupun tidak se kuat otak reptilia ia sangat kuat. Apabila sudah tumbuh besar, 8 dari 10 pertarungan dimenangkan otak mamalia.

Tetapi ada satu kesempatan yang menarik, ketika otak Mamalia ini masih sedang tumbuh, saat perasaan bergejolak masih cukup tenang, otak rasio dapat mengalahkannya dengan rasio yang cukup mencengangkan, 8 dari 10 pertarungan dapat dimenangkan otak manusia.

Berdasarkan theori tersebut, saya semakin yakin bahwa sebenarnya sangatlah sulit untuk menahan kita untuk menggunakan kekuatan, dengan kesulitan yang sama ketika kita menahan ketakutan kita. Walaupun dapat dikendalikan, tidak mudah mengendalikannya, karena secara fisik, bagian amygdala (otak mamalia) memfilter semua pikiran sebelum masuk ke bagian rasio kita yang disebut neo cortex.

Seringkali jika bagian ini amygdala ini sudah terusik, sangat sulit untuk menghentikannya, karena rasio bahkan tidak diberikan kesempatan olehnya untuk tampil.

Pengalaman ini memberikan pelajaran bagi saya, sangat penting untuk mendeteksi kemarahan sejak sangat awal, dan kita harus berkonsentrasi mengendalikannya sejak sangat awal, saat kita masih memiliki kesempatan. Ketika pun kita sudah sangat marah, amygdala ini yang harus menjadi konsentrasi kita dalam menghentikan kemarahan, yaitu dengan pikiran yang menenangkan, bukan pikiran yang rasional tapi rumit untuk di mengerti amygdala.

Hal yang sama pun terjadi terhadap perlakuan orang lain, jangan sampai kita mengusik amygdala ini, kita harus memastikan mereka tetap terlelap, dengan cara tentu saja dengan tidak memancing proses lawan atau lari, proses kemarahan dan ketakutan pada orang yang kita ajak untuk berinteraksi.

Dan itulah mungkin yang telah dipelajari oleh rakyat Indonesia, dimana kesopan santunan, tingkah laku harus dijaga. Sifat-sifat arogan, kesombongan, provokasi, acuh tak acuh membangunkan naga tidur. Yang menyebabkan pikiran kita tersabotase amygdala.

Demikian juga, saat ada rekan kita yang marah ataupun ketakutan, hal yang penting kita berikan adalah dukungan  dan menenangkannya. Janganlah kita berharap agar ia berpikir secara rasional, karena saat itu, pikiran mereka telah tersandera.

Tentu masalah saya tidak selesai sampai di sini, saat ini rumah saya masih bau, tp saya mulai berpikir untuk menghindari penggunaan kekuatan ataupun intimidasi. Karena saya akhirnya menyadari bahwa kecenderungan berpikir seperti ini adalah cara-cara primitive, ketika nenek moyang kita masih berada di tengah hutan dengan ancaman yang luar biasa.

Begitu pula John, setelah berkomunikasi ia mengajukan untuk mengundurkan diri, walaupun komunikasi ini tidak memberikan hasil sesuai harapan, tetapi sisi positifnya adalah saya tidak terjebak pada kemarahan dan upaya-upaya penekanan ataupun intimidasi.

Sehingga janganlah malu jika sangat sulit menahan agresi, tetapi ingatlah ada reward yang sangat besar mènanti ketika kita bisa memghadapi response lawan atau lari kita secara positif. Ingatlah stress adalah pembunuh yang mematikan, jika kita bisa mengurangi dampaknya akibatnya jauh lebih bermanfaat daripada berhenti dari kebiasaan merokok.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑