Kisah Sepotong Kue

piece of cake

Ini pertanyaan yang sering jadi pertanyaan, mana yang kamu pilih potongan kue yang kecil dari kue yang besar atau potongan kue yang besar dari kue yang kecil.

Tentunya kue yang saya maksud adalah rejeki, reputasi, hadiah dan lain-lain.

Tentu secara natural kita akan menjawab sama saja, karena volumenya sama. Tetapi dalam dunia nyata, kita cenderung memilih potongan kue yang besar dari kue yang kecil, syukur-syukur dari kue yang besar. Karena kita pasti akan merasa memberikan kontribusi paling besar, ya pastilah, karena kita tahu semua pekerjaan kita dan kurang menghargai pekerjaan orang lain, karena kita tidak mengetahui pekerjaan rekan-rekan kita.

Tetapi implikasi hal ini akan sangat luar biasa, rekan-rekan anda akan merasa diperlakukan tidak adil dan di eksploitasi. Akibatnya orang-orang akan meninggalkan anda, yang akhirnya kita akan lelah memulai siklus membangun yang sangat melelahkan dan menghabiskan energi.

Sebaliknya jika anda memilih mengambil bagian yang kecil dari kue yang kecil atau yang besar, orang-orang akan senang bekerjasama dengan anda, apalagi jika mereka mendapatkan hasil yang layak atau lebih dari layak. Orang-orang akan berusaha memberi bantuan kepada Anda, mereka bahkan bisa jadi “memaksa” memberi bantuan kepada Anda. Mereka akan menilai anda orang yang bisa dipercaya, tidak serakah dan Produktif.

Jika sudah begini ceritanya, anda bisa terus memberikan manfaat kepada lingkungan dengan memberikan layanan yang bermanfaat, menyenangkan mitra Anda, dan memberikan manfaat bagi diri anda sendiri.

Kue anda bisa terus anda perbesar dan terus perbesar, tanpa anda menjadi overloaded, karena ada tangan-tangan yang siap membantu anda. Tentu hal tidak akan semudah ini, tapi demikian kira-kira idenya.

Sebagai gambaran, starbuck hanya mendapatkan margin 7% dalam setahun artinya ia hanya mendapatkan sebagian kecil dari modal yang ditanamkan. Karena sebagian besar pendapatan yang ia peroleh (kue) ia kembalikan ke stakeholder, konsumen dengan produk yang berkualitas, karyawan dengan gaji yang memuaskan, petani dengan harga jual yang adil, pemilik gedung dengan biaya sewa, dll. Dengan ini dia mendapat kesetiaan dari karyawannya, dari petaninya, dari pembelinya. Bahkan mal2 dengan senang hati memberikan lokasi premium untuknya, dan orang2 berbondong-bondong memberikan modalnya melalui bursa saham.

Kemudian implikasinya buat saya apa? Saya nggak punya warung starbuck! Jika kita bekerjasama, jangan terlalu egois untuk mendapatkan hasil terbesar, baik secara finansial, reputasi atau kredit. Kembalikan keuntungan ini kepada rekan-rekan kita, customer kita, dan stakeholder kita. Dan saya perhatikan hampir kebanyakan unit usaha dan orang yang sukses melakukan hal ini, memberikan nilai yang luar biasa, dengan harga “value deal”, harga barang atau jasa dibawah nilai yang kita peroleh

Saya percaya, dengan pedekatan ini semua orang diuntungkan dan kita akan melihat pertumbuhan yang eksponensial, penuh rasa percaya dan kita bisa tetap hidup dalam idealisme kita yang menyenangkan.

Satu hal yang paling penting yang perlu dicatat adalah seringkali biaya yang paling mahal adalah keserakahan, salah satu energy paling hitam dan paling kuat, semakin dipenuhi semakin kuat dan ganas. Dan membuat kita semakin menderita, inilah asal muasal kehancuran. Jika ia berhasil dikendalikan, kue kecil anda seringkali cukup, bahkan masih bisa dibagi lagi.

Selamat berjuang kawan, semoga usaha anda dalam keluarga, perusahaan ataupun bisnis anda sendiri terus berkembang dengan luar biasa dan sehat. Tentu tidak mudah, tapi ini masih cara yang termudah yang saya ketahui.

Ket : Gambar diambil dari http://www.western-ujb.com

Advertisements

Energy Hitam

dark-energy

Untuk menggerakkan segala sesuatu di dunia ini selalu dibutuhkan energi, baik dunia fisik maupun dunia non fisik. Contoh sederhana adalah mobil untuk menggerakkannya diperlukan energi. Demikian pula dunia non fisik seperti organisasi untuk menjalankannya diperlukan energi mental pelakunya, untuk menjaganya tetap bekerja secara efektif dan efisien.

Secara umum saya membedakan menjadi dua tipe sumber energi:

  • sumber energi hitam yang murah tetapi kotor, tidak lestari dan dalam jangka panjang dayanya sangat merusak
  • sumber energi putih yang lebih mahal, lestari dan tidak memberi kerusakan jangka panjang.

Saya tidak ingin membahas lebih jauh terkait sumber energi hitam di dunia fisik, tetapi analoginya sangat menarik di bandingkan dengan dunia non-fisik.

Seperti kita kenal, minyak bumi ini adalah sumber energi yang kotor, segera habis dan kerusakannya terhadap lingkungannya sangat luar biasa mengakibatkan badai, kenaikan suhu bumi dan polusi udara.

Tetapi sumber energi ini terus menerus digunakan oleh orang, alasannya karena murah. Padahal kita akan membayar akibatnya di belakang.

Saat ini mulai muncul energi terbarukan, energi putih, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air, sel surya, energi angin dll. Bersih karena tidak menghasilkan polusi. Tetapi harganya lebih tinggi, dan membutuhkan keterampilan dan teknologi untuk membuatnya berhasil. Tetapi kita dibebaskan dari konsekuensi seperti pemanasan global dan kerusakan lingkungan.

Di sinilah kita mulai masuk ke pokok pembahasan kita. Dalam organisasi untuk menggerakkan organisasi sebenarnya ada dua Sumber energi, energi hitam melalui intimidasi, penyuapan, manipulasi, eksploitasi, beckingan dan berbagai hal negative lainnya. Tentu saya tidak mengatakan cara-cara ini tidak efektif, seringkali sangat efektif. Karena ini adalah mainstream pengelolaan organisasi. Bahkan kita akan dianggap tidak efektif bila tidak memiliki kemampuan tersebut. Godaan untuk menggunakannya pun luar biasa, karena mudah dilakukan dan hasilnya pun langsung terasa.

Tetapi akibat negatif nya juga luar biasa, hingga satu titik kepercayaan akan sangat rendah, kreativitas terpasung, kita menjadi muak,depresi dan kehilangan produktivitas persis seperti perubahan iklim akibat penggunaan energi kotor.

Tetapi saat ini adalah saat yang luar biasa, mulai muncul sumber-sumber energi terbarukan dalam organisasi. Melalui empati,trust,  komunikasi yang terbuka, teknologi, kemampuan mendengarkan, strategi yang efektif, operasional yang efisien dan kerjasama win-win solution. Yang akan mengembalikan peran manusia sebagai manusia produktif tanpa harus kehilangan jiwanya. Memang energi ini mahal dan tidak mudah untuk diproduksi layaknya sumber energi putih lainnya, tetapi ia dapat terus diperbaharui dan dikembangkan melalui partisipasi aktif, dan yang lebih penting, tidak merusak jiwa organisasi.

Kita mungkin akan merasa apatis dengan cara-cara ini, seperti layaknya utopia yang tidak akan terwujud dan dengan menjalankan cara-cara bersih ini cepat atau lambat kita yang akan tersingkir.tetapi menurut saya ini keyakinan yang salah.

Saat ini kita mungkin minoritas, tetapi keyakinan saya, cepat atau lambat energi jenis ini akan menggantikan energi hitam yang kita gunakan. Energi putih yang lestari dan dapat terus berkembang.

Jika anda penggemar film anda akan melihat bagaimana Skywalker tergoda menggunakan energi hitam sehingga menjadi Darth Vadder yang akhirnya ikut hancur bersamanya. Mungkin awalnya untuk tujuan yang yang mulia tapi kekuatannya sangat merusak. Hal yang sama dapat terjadi pada diri kita jika kita mulai tergoda menggunakan energi ini.

Keterangan Gambar : Black Energy, diambil dari dailygalaxy.com

Dunia yang Terbalik

upside-down2

Ket : Gambar dari film upside-down

Kenapa saya sebut dunia yang ter balik, karena seringkali yang diajarkan di sekolah, atau hal-hal yang kita rasakan natural seringkali justru berseberangan dengan “kebenaran”, setidaknya versi saya.

Kita ambil contoh sederhana, seringkali kita berpikir ahli komunikasi yang hebat adalah orang yang mampu merangkai kata-kata yang cerdas, diucapkan dengan nada yang tepat, dan dengan gerak-gerik yang tepat. Tentu menurut saya hal-hal tersebut adalah penting, tapi sifatnya lebih cenderung sekunder.  Dalam seni komunikasi, hal yang terpenting adalah empati, bagaimana kita melihat dari sisi pendengar dan  bisa mengerti  hal-hal sesuai sudut pandang pendengar dan  akhirnya kita mengerti kebutuhan pendengar. Dan akhirnya kehebatan komunikasi dari seseorang bukan lagi diukur dari kemampuannya berbicara, tetapi pada kemampuannya mendengarkan.

Seringkali kita menilai pengusaha, adalah orang yang serakah, dan penuh kecurangan. Dan hanya pengusaha yang curang lah yang bisa berhasil. Sehingga seringkali pengusaha dianggap cukong-cukong yang siap menghisap kekayaan. Tentu jika kita cari contoh tidak terhingga pengusaha yang sifatnya demikian. Tetapi kalau kita lihat lebih lanjut, banyak sekali pengusaha berusaha menginvestasikan waktunya, pemikirannya, hartanya bahkan kesehatannya untuk bisa memberikan manfaat kepada lingkungan sekitar tanpa ada jaminan komunitas akan mau menerima layanan mereka. Misalkan saja pengusaha warteg, tukang sate, tukang laundry, mereka menyiapkan sate tanpa ada jaminan ada yang membeli. Mereka juga harus memiliki empathy yang tinggi, karena mereka harus menyediakan layanan yang sesuai dengan kebutuhan customer. Pengusaha  yang baik tentu saja seorang altruis dan empathy yang akan membawa dunia menjadi lebih baik.

Sejak kecil kita selalu bermimpi bahwa kita bisa mengubah dunia dengan menghasilkan hal-hal yang besar, tetapi berdasarkan pengalaman saya hal-hal besar hanya bisa terjadi bila secara konsisten kita melakukan hal-hal kecil dengan cara yang benar. Dalam hal perumpamaan, seperti membangun anak tangga. Jika kita berpikir melompat atap rumah adalah sulit, tetapi jika kita membangun setahap demi setahap anak tangga, naik ke atap rumah tidaklah sulit.  Sehingga hal-hal besar terjadi bila kita melakukan hal-hal kecil secara konsisten.  Tidak ada hal besar yang bisa kita lakukan seperti layaknya superman.

Dunia ini tidak compatible dengan nilai-nilai luhur seperti kejujuran,  orang jujur sering menjadi korban orang licik. Menurut saya bekerja di luar prinsip-prinsip luhur hanya akan memberikan keuntungan sesaat, setelah itu kita akhirnya harus menanggung akibatnya berlipat-lipat. Mungkin awalnya orang yang lurus akan menderita, tetapi akhirnya yang berbuat curang dan licik akan menerima akibatnya berkali-kali lipat.

Hemat pangkal kaya, salah satu ajaran yang tidak lekang oleh jaman. Tentu jika kita berhemat dalam hal-hal yang bersifat konsumtif akan sangat baik. Tetapi jangan lupa untuk selalu berinvestasi, baik pada instrument financial seperti saham, tanah, emas  dan kepada manusia, sesama kita, kamu tidak mampu, keluarga kita, kolega kita dan bahkan diri kita sendiri. Jika kita berani berinvestasi, pasti kita akan kaya.

Dalam dunia bisnis, seringkali kita berpikiran bahwa strategi yang hebat adalah strategi yang lengkap dan komprehensif. Pada kenyataannya strategi yang hebat adalah strategi yang focus terhadap hal-hal yang penting, bukan yang panjang dan lebar dan bertele-tele. Karena strategi akhirnya harus memilih dari yang baik dan yang terbaik. Strategi bukanlah mengenai seberapa lengkap, tetapi seberapa tajam.

Oleh karena itulah saya mengatakan bahwa dunia ini seringkali terbalik, kita perlu terus belajar dan belajar baik dari ilmu pengetahuan maupun dunia metafisik melalui agama agar kita tidak tersesat dan terkungkung pada pandangan-pandangan kita yang salah, yang akhirnya menjadi penjara kita.

Dan akhirnya dengan mengetahui kebenaran, kebenaran akan membebaskan kita.

Blog at WordPress.com.

Up ↑