Empati, Seni Komunikasi yang Hilang

empathy

Saya mengenal istilah empati ini bertahun-tahun yang lalu, dan saya selalu kesulitan membedakannya dengan simpati. Mungkin karena dibesarkan sebagai cowo, dan sekolah pun di bidang engineering, agak sulit untuk saya membedakan 2 hal ini, kedua hal ini terlalu feminism dan tidak exact, sedangkan saya, ehmmm, Boys will be boys. 

Menurut saya jika ada yang sedang sedih, kecewa atau berduka, sudah tanggung jawab kita meringankan bebannya dengan memberi semangat atau solusi terhadap masalahnya. Tetapi entah kenapa hal ini tampaknya membuat saya semakin frustasi, dan rekan, sahabat atau pasangan pun tampaknya semakin frustasi. Ternyata inilah yang disebut dengan Simpati, setidaknya menurut definisi saya. Kita jatuh kasihan, padahal rekan kita tidak butuh dikasihani.

Tentu ini semakin membingungkan, saya berusaha baik tapi kok malah jadi kacau, makanya kadang-kadang lebih baik menghindar saja. Beberapa saat yang lalu saya membaca perumpamaan yang cukup menarik yang menjelaskan kenapa simpati ini membuat kita dan rekan kita frustasi.

Suatu ketika ada seseorang yang rabun jauh, dan pergi ke toko Optik, petugasnya sangatlah baik, melihat kesulitan dari customernya, ia pun berpikir cepat. Kacamata yang saya pakai ini sangat membantu saya, dan sangat berharga untuk saya, tetapi demi sang pelanggan, saya relakan kacamata ini. Kemudian sang pelanggan pun diberikan kacamata ini, tetapi bukannya semakin jelas, justru semakin kabur, ya iyalah, matanya saja beda.  Semakin ia berusaha semakin pusing sang pelanggan. Sang petugas pun semakin bingung, ia sudah berusaha sebisa mungkin, tetapi orang yang dibantu malah tidak menghargai dan mengatakan semakin kabur. Nah inilah yang disebut sebagai simpati, kita memaksakan ukuran kita terhadap orang lain, yang kemungkinan besar memiliki ukuran yang berbeda. Akhirnya menyebabkan frustasi antara keduanya.

Empati ini sedikit berbeda, kita tidak berusaha untuk menilai atau menghakimi orang lain, kita berusaha merasakan apa yang ia rasakan, dan berusaha melihat apa yang ia lihat. Hal ini memberikan udara atau bantalan emosi terhadap rekan kita, membuat kita terhubung lebih baik, dan kita bisa mengerti kondisi sesungguhnya terhadap kesulitan-kesulitannya.

Tetapi percayalah, berbuat secara emphatic ini sangatlah sulit, karena akan membuat kita terpapar terhadap kerapuhan rekan kita dan menuntut kesabaran yang luar biasa. Tetapi hasilnya sungguh luar biasa, kita akan memiliki relasi yang lebih kaya dan kepercayaan yang lebih tinggi.

Dan tentu saja jangan berbaik sangka kepada saya, bahwa saya berkomunikasi dengan empathy, tentu saya berusaha, tapi seringkali kemalasan dan disiplin yang rendah menghalangi saya untuk melakukannya secara konsisten.  Tetapi saya percaya, semakin banyak kita berusaha ber-empathy, dunia akan semakin menjadi tempat yang menyenangkan.

Advertisements

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑