Greatness to Goodness

Image

Penggemar buku mungkin sudah sering membaca buku legendaris karangan Jim Collins, From Good To Great. Saya belum sih, karena tebal bukunya :), I am Sorry :).

Yang saya ingat dahulu dari petinggi di perusahaan saya bekerja, mengatakan bahwa dalam bukunya Jim Collins menuliskan, musuh terbesar Hebat (Great) adalah Baik (Good). Saya tentu setuju sekali, dengan tulisan Jim Collins, kalau kita sudah merasa baik, tentu kita enggan untuk berubah menjadi hebat, karena beresiko.

Tetapi beberapa saat yang lalu saya menonton film Walt Disney yang menurut saya sangat bagus, “The Great and Powerful Oz”.  Seorang pesulap dari Manhattan yang bernama Oscar Diggs, jatuh di suatu negeri ajaib bernama Oz. Negeri Oz ini sedang dijajah oleh Tukang Sihir yang sangat sakti dan jahat. Terdapat suatu nubuat , bahwa negeri tersebut akan dibebaskan oleh Penyihir hebat bernama Oz, yang kebetulan juga kependekan nama dari Oscar Diggs.

Mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat Oz, sang pesulap, yang “terlalu percaya diri” ini cukup kebingungan bagaimana melawan tukang sihir yang sakti. Tetapi untungnya ada penyihir baik yang mengetahui bahwa sebenarnya ia adalah orang biasa, tetapi yakin terhadap ramalan tersebut bahwa Oscar memang merupakan jawaban atas negeri Oz.

Menggunakan sumber daya yang ada Oscar Diggs merancang strategi, dan menciptkan alat ilusi dari pengalamannya bermain sulap. Dan akhirnya penyihir jahat berhasil dikalahkan.

Sang Oz bertanya kepada penyihir baik, bagaimana sang penyihir bisa melihat kehebatannya, yang dia sendiri tidak tahu dia memilikinya. Sang penyihr berkata, bahwa ia melihat lebih dari kehebatan Oz, dia melihat kebaikan dalam dirinya.

Seringkali kita hanya mencari dan menunjukkan kehebatan diri kita, tetapi melupakan bahwa ada sesuatu yang lebih penting, yaitu kebaikan. Kehebatan sering merupakan cerminan ego kita untuk menunjukkan eksistensi sedangkan kebaikan seringkali keinginan untuk menjadikan diri kita, orang lain, atau lingkungan menjadi lebih baik. Dan saya merasa sangat pantas bahwa kita perlu mulai beralih dari yang bersifat ke-“aku”-an ke sesuatu yang lebih bersifat “kita” yang tercermin dari kataGreatness to Goodness”

Advertisements

3 thoughts on “Greatness to Goodness

Add yours

  1. Greater commitment to work means fewer hours available for other areas of life.
    ke-Tuhan-an pak bobby tambah besar, tidak silau dengan Jim Collins. semoga kepekaan hati pak bobby bisa bertumbuh sehingga bisa digunakan sebagai alat “penawar hati” instead of “penawar akal sehat/otak” tiap kali mendapat challenge. GBU

  2. Terimakasih Bang Ben :). Tetapi memang dunia ini aneh Bang,yang penting dan yang kurang penting terbalik-balik. Kemarin ada trainer yang sangat capable, mantan petinggi juga di singapore, tetapi mereka resign dan memilih menjadi consultant, karena di perusahaan mereka bekerja, mereka tidak memiliki kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: