Rasa Takut adalah Pedang Bermata Dua

Image

Apakah anda pernah merasa takut? Kalau saya jawabannya sering. Tentu rasa takut ini diciptakan ada manfaatnya, bahkan sangat esensial. Resiko di sekitar kita terlalu banyak, tanpa rasa takut mungkin kita sudah tidak ada di sini.

Seperti ketika kita naik motor, kita tidak mau ugal-ugalan karena kalau jatuh bisa sangat gawat. Di kantor jangan bermalas-malasan, karena kalau kita malas bisa dipecat. Rasa takut ini memberi kita visi di masa depan, sehingga kita bisa mengantisipasinya.

Oleh karena itu tidak heran kadang-kadang rasa takut ini mencengkeram kita dengan sangat erat, karena fungsinya yang begitu penting. Akibat buruknya kita tidak bisa melihat kesempatan-kesempatan yang muncul.

Bahkan para peneliti dengan berbagai cara, memperkirakan suatu angka, bahwa manusia 10x lipat takut kehilangan daripada mendapatkan sesuatu. Untuk, memperjelas, walaupun seringkali tidak sejelas ini, anda lebih memilih menyimpan Rp 1000 daripada kehilangannya tetapi mendapatkan kesempatan 50% untuk mendapatkan Rp 20.000.

Hal  ini yang menyebabkan kita kehilangan potensi terbaik kita.  Misalkan kita takut mengambil keputusan karena takut disalahkan, kita takut menginvestasikan uang kita, karena takut uang kita hilang. Memang resiko itu ada, tetapi seringkali tidak sebesar yang ada di kepala kita. Mengingat setiap hari kita juga memiliki resiko, kadang-kadang mengambil resiko itu memiliki resiko yang paling kecil.   

Bahkan kadang-kadang kita mempertaruhkan hal yang jauh lebih besar, untuk hal-hal yang kurang penting. Misalnya:

  • Kalau naik motor ada celah sempit sudah masuk, demi menyelamatkan 30 detik
  • mengendarai mobil  ugal-ugalan karena  terlambat mengikuti meeting
  • Tidak mau memberi jalan kepada mobil yang mau lewat
  • Tidak mau mengalah karena takut ego nya rusak.  

Tentu ini sangat kontra produktif , bagaimana mungkin anda mempertaruhkan nyawa anda untuk mendapatkan waktu yang sangat pendek, bagaimana mungkin kita  mempertaruhkan ego demi hubungan yang jauh lebih penting. Mungkin rasa takut yang mengurat-akar ini penyebabnya.

Hal seperti ini tampaknya harus kita asah perlahan-lahan agar kita bisa mengendalikannya dengan lebih baik, sehingga hidup kita lebih optimal.  Tentu saya masih bergumul terhadap rasa takut ini, mungkin sudah waktunya saya mulai mengurangi rasa takut ini.

Advertisements

Greatness to Goodness

Image

Penggemar buku mungkin sudah sering membaca buku legendaris karangan Jim Collins, From Good To Great. Saya belum sih, karena tebal bukunya :), I am Sorry :).

Yang saya ingat dahulu dari petinggi di perusahaan saya bekerja, mengatakan bahwa dalam bukunya Jim Collins menuliskan, musuh terbesar Hebat (Great) adalah Baik (Good). Saya tentu setuju sekali, dengan tulisan Jim Collins, kalau kita sudah merasa baik, tentu kita enggan untuk berubah menjadi hebat, karena beresiko.

Tetapi beberapa saat yang lalu saya menonton film Walt Disney yang menurut saya sangat bagus, “The Great and Powerful Oz”.  Seorang pesulap dari Manhattan yang bernama Oscar Diggs, jatuh di suatu negeri ajaib bernama Oz. Negeri Oz ini sedang dijajah oleh Tukang Sihir yang sangat sakti dan jahat. Terdapat suatu nubuat , bahwa negeri tersebut akan dibebaskan oleh Penyihir hebat bernama Oz, yang kebetulan juga kependekan nama dari Oscar Diggs.

Mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat Oz, sang pesulap, yang “terlalu percaya diri” ini cukup kebingungan bagaimana melawan tukang sihir yang sakti. Tetapi untungnya ada penyihir baik yang mengetahui bahwa sebenarnya ia adalah orang biasa, tetapi yakin terhadap ramalan tersebut bahwa Oscar memang merupakan jawaban atas negeri Oz.

Menggunakan sumber daya yang ada Oscar Diggs merancang strategi, dan menciptkan alat ilusi dari pengalamannya bermain sulap. Dan akhirnya penyihir jahat berhasil dikalahkan.

Sang Oz bertanya kepada penyihir baik, bagaimana sang penyihir bisa melihat kehebatannya, yang dia sendiri tidak tahu dia memilikinya. Sang penyihr berkata, bahwa ia melihat lebih dari kehebatan Oz, dia melihat kebaikan dalam dirinya.

Seringkali kita hanya mencari dan menunjukkan kehebatan diri kita, tetapi melupakan bahwa ada sesuatu yang lebih penting, yaitu kebaikan. Kehebatan sering merupakan cerminan ego kita untuk menunjukkan eksistensi sedangkan kebaikan seringkali keinginan untuk menjadikan diri kita, orang lain, atau lingkungan menjadi lebih baik. Dan saya merasa sangat pantas bahwa kita perlu mulai beralih dari yang bersifat ke-“aku”-an ke sesuatu yang lebih bersifat “kita” yang tercermin dari kataGreatness to Goodness”

Biarkan Lingkungan Membantu Kita Melakukan Hal Besar

Image

Sebagai manusia, kita memang ditakdirkan sebagai makhluk yang lemah. Dari segi kekuatan, kita kalah dengan hewan seperti macan, orang-utan, kucing hutan atau gajah ataupun dengan kekuatan mesin. Dari segi kemampuan meproses data kita juga sangat tertinggal dibandingkan dengan komputer.

Tetapi kita adalah makhluk yang sangat kreatif, kita dapat meng-exploitasi lingkungan di sekitar kita. Misalnya, walaupun rahang kita lemah, manusia mampu memanfaatkan api untuk memasak daging, sehingga makanan lebih mudah dikunyah ataupun dicerna. Manusia jaman dahulu pun mulai menggunakan alat dan senjata untuk bercocok tanam ataupun berburu. Mereka juga memanfaatkan aliran air untuk membuat irigasi, bahkan membuat bidang miring yang cukup panjang untuk menyusun batu-batu raksasa untuk membuat pyramid raksasa di mesir.

Selain itu manusia juga mulai bekerja-sama dengan manusia lainnya, melalui perdagangan, sistem politik, perusahaan atau organisasi untuk mencapai tujuan bersama yang jauh lebih besar dibandingkan kemampuan individual dalam mencapainya, sehingga kita melihat bangunan yang megah, kapal raksasa, disain mobil yang luar biasa, atau Negara yang mampu bertahan dari serangan dari dalam maupun luar.

Hal-hal ini tidak mungkin dicapai manusia jika ia tidak memanfaatkan lingkungannya dalam membantunya, ia menjadikan sumberdaya di sekitarnya baik finansial, pengetahuan, manusia lainnya, sumber energy, dll sebagai sumber kekuatan.

Tetapi alih-alih memanfaatkan lingkungan kita sebagai kawan, kita sering memilih menjadikan lingkungan ini lawan kita. Ini gila, karena menyadari bahwa kita makhluk lemah, kita pasti akan kalah. Kita harus mencari sisi positif dari lingkungan kita dan memanfaatkan. Jangan kita mengatakan bahwa lingkungan harus bertingkah mengikuti kita , seperti berharap matahari terbit dari barat, ini tidak mungkin.  

Sun Tzu menunjukkan dengan kalimat yang indah. Jika batu itu persegi, jadikanlah benteng, jika batu itu bulat gelindingkanlah untuk menyerang musuh.

Misalkan kita melihat bahwa:

  • Orang-orang di sekitar kita tidak peduli, mungkin kita belum menyentuh kepentingan mereka.
  • Orang lain tidak mampu, mungkin kita belum melatih mereka
  • Orang lain tidak telaten, mungkin mereka orang yang kreatif, atau sebaliknya
  • Modal Finansial kurang, mungkin kita memulai dengan terlalu besar
  • Project terlalu lama selesai, mungkin cakupannya terlalu besar atau tidak jelas

Saya mengamati bahwa untuk setiap kekurangan selalu ada kelebihan, hanya saja kita terpaku pada kekurangan tersebut, sehingga menjadikan kita frustasi. Yang akhirnya menyebabkan kita merasa menjadi korban, karena sudah memberikan seluruh daya upaya tetapi tetap lingkungan kita tidak bergeming.

 Terkadang kita juga memberikan ujian terhadap tekad kita, dengan godaan yang terlalu besar, yang sangat sulit kita menangkan misalnya:

  • Rencana berhemat tetapi sering pergi ke mall, atau melihat baju atau gadget yang menarik hati
  • Diet tetapi berjalan-jalan di sekitar food-court ataupun restoran yang menyebarkan aroma yang luar biasa, saat perut kita keroncongan.
  • Ingin berhenti merokok tetapi terus bergaul dengan perokok.

Karena kekuatan lingkungan ini luar biasa besar, jika kita tidak memanfaatkannya, bisa dipastikan kita yang terlibas. Ini seperti hendak berenang melawan arus sungai, tetapi jika bisa memanfaatkannya, kita bisa menggunakan sampan, sehingga kita bisa memanfaatkan energy dari arus sungai ini.

 Saya berharap kita bisa mengambil keuntungan dari kondisi lingkungan kita, menghindari hal-hal yang tidak bisa kita menangkan, atau mengubah dari posisi merugikan menjadi keuntungan.

Belajar dari Sistem Politik Kuno

as-assembly

Sistem politik di masa China dan Yunani kuno merupakan tonggak sejarah budaya manusia. Hebatnya pemikiran-pemikiran mereka masih ada yang mendasari sistem politik saat ini. Contohnya Istilah Republik merupakan istilah yang pertama kali dicetuskan oleh Aristoteles. Mempelajari perpolitikan kuno ini sangat mengasyikkan, karena mereka memiliki tatanan politik berdasarkan kebutuhan saat itu, untuk menciptakan masyarakat madani.

Salah satu pemikir yang mendasari sistem politik china pada jaman dahulu adalah Konfucius atau Master Kong. Beliau muncul di salah satu jaman di china yang dikenal dengan periode musim semi dan musim gugur. Suatu era di china yang memiliki banyak pemikir dan filsuf. Era ini sekitar tahun 700 Sebelum Masehi (SM)  Beliau menekankan pentingnya nilai-nilai yang dimiliki oleh pemimpin pemerintahan. Menurut beliau penguasa tertinggi harus menjadi contoh teladan bagi para pejabat-pejabatnya. Yang pada akhirnya para pejabat ini menjadi contoh bagi rakyatnya. Master Kong menekankan pentingnya pengendalian diri dibandingkan hukuman dari luar. Bahkan jika ada orang yang berbuat salah, disarankan agar kita introspeksi terhadap diri sendiri dibandingkan menyalahkan orang tersebut.  Jaman Konfusius menekankan terhadap pentingnya keluhuran jiwa.

Pemikir lainya, Mozi juga mementingkan pentingnya keluhuran jiwa, tetapi menurut beliau, seorang pejabat juga harus cakap, dan kecakapan ini dapat  diperoleh melalui sikap dan pendidikan yang tepat. Berbeda dengan konfusius yang mementingkan pejabat harus dari kalangan darah biru, Mozi tidak mempermasalahkan darimana ia berasal, yang penting kemampuannya memadai.

Periode musim semi dan musim gugur ini diakhiri oleh peperangan yang pecah di china, sehingga kekacauan muncul dimana-mana. Munculah Sun Tzu, seorang tokoh militer yang menulis buku strategi perang. Berbeda dengan Master Kong yang mementingkan keluhuran jiwa, Sun Tzu mengambil pendekatan yang sangat pragmatis. Untuk memenangkan peperangan, tipu muslihat pun diijinkan. Menurut Sun Tzu, peperangan adalah masalah hidup mati negara, sehingga jendral yang cerdas merupakan bintang nasib suatu negara. Seni berperang memastikan kestabilan dan kesejahteraan suatu negara.

Di masa Dinasti Han, walaupun secara formal mengadopsi konfusiusme, Han Fei Tzu memiliki pemikiran yang berbeda dengan Konfusius, ia memiliki pemikiran bahwa manusia memiliki keluhuran jiwa, tetapi mereka sering mencari keuntungan pribadi dan menghindari hukuman. Sehingga ia mengambil bentuk pemerintahan yang lebih ketat, dimana dibangun suatu sistem hukum yang memberikan hukuman terhadap perilaku yang tidak diinginkan. Hukuman ini juga berlaku untuk para pejabat, sehingga memastikan mereka bekerja demi kepentingan negara dibandingkan kepentingan pribadi.

Di bagian dunia yang lain, Demokrasi sedang berkembang di Athena, Yunani. Setelah mereka berhasil menjatuhkan pemimpin tiran, Setiap warga athena yang  memenuhi syarat memiliki hak mengambil keputusan. Tetapi pemimpin oleh rakyat ini juga sering juga korup dan tidak adil.

Socrates pemikir saat itu yang sering mempertanyakan kebijakan pemerintahan oleh rakyat ini, yang dianggap sering melanggar batas-batas keadilan dan keluhuran jiwa. Tampaknya demokrasi di awal kelahirannya penuh dengan carut-marut. Alih-alih mendengarkan Socrates, pemerintahan ini justru menghukum mati Socrates, karena dianggap menghasut rakyat.

Plato, yang melihat sendiri bagaimana ketika rakyat awam memimpin, justru tidak memberikan ketidak-adilan, salah satu korbannya adalah gurunya sendiri Socrates. Sehingga ia mencetuskan bahwa kekuasaan politik, harus diberikan kepada filsuf yang memiliki pengetahuan intelektual, etika dan moral. Menurut beliau, hingga filsuf menjadi pemimpin, kota Athena akan selalu dalam kondisi buruk. Plato mencetuskan Republik (res-public : urusan publik), dimana rakyat berdaulat dan negara dijalankan oleh perwakilan rakyat yang dipilih dari elit rakyat. Plato menyadari bahwa mendapatkan pemimpin dengan kualitas seperti ini sangat sulit, sehingga ia mendorong pendidikan untuk elite rakyat.

Aristoteles, juga murid dari Plato, mencetuskan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk politik. Ada 6 makhluk politik yang diidentifikasi oleh beliau, yang pada dasarnya dibagi menjadi 2 bentuk utama

Pemerintahan Efektif

– Monarki            : Dipimpin oleh satu orang

– Aristokrasi        : Dipimpin oleh beberapa orang

– Republik            : Dipimpin oleh banyak orang

Pemerintahan Korup

– Tiran                   : Dipimpin oleh satu orang

– Oligarki              : Dipimpin oleh beberapa orang

– Demokrasi        : Dipimpin oleh banyak orang

Beliau menekankan bahwa Republik ini adalah bentuk ideal dari pemerintahan, dan walaupun Demokrasi buruk, masih lebih baik dibandingkan Aristokrasi ataupun Monarki.

Sistem politik kuno ini mengajarkan banyak hal kepada kita:

– Bahwa pemerintahan oleh rakyat pun memiliki kelemahan, tetapi walaupun memiliki kelemahan, ini adalah sistem yang terbaik.

– Pemimpin dengan jiwa yang luhur dan memiliki kemampuan sangatlah penting

– Selain memilki pemimpin dengan jiwa yang luhur, suatu negara harus memiliki kekuatan dalam penegakan hukum dan menjaga kedaulatan.

Sedikit pesan sponsor, nanti pemilu pastikan teman-teman ikut ya, karena memang sistem politik yang baik perlu waktu dalam membangunnya. Dan politik yang efektif dan kuat sangat penting untuk kebaikan kita sebagai rakyat Indonesia

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑