Dunia Semakin Rata

Image

Beberapa abad yang lalu, pelaut tidak berani berlayar terlalu jauh dari pantai, karena dunia itu datar, mereka tidak ingin jatuh di “ujung dunia”, dan hilang entah kemana.

Tetapi seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahun, manusia menyadari bahwa bumi itu bulat, pengetahuan ini membuka awal dari ekspedisi-ekspedisi besar dan mengawali era imperialisme eropa.

Tetapi berdasarkan penulis buku “The world is flat” Thomas L. Friedman, ia menemukan bahwa dunia itu sebenarnya datar atau setidaknya semakin lama semakin datar. Saya membaca bukunya sekitar 10 tahun yang lalu, pada saat itu belum terlalu jelas kata-katanya, tetapi tampaknya sekarang semakin masuk akal.

Tentu yang dimaksud dunia ini bukan bentuk bumi yang tidak terbantahkan lagi bentuknya bulat, dan tampaknya belum ada penelitian yang meng-klaim bumi menuju ke arah datar. Yang dimaksudkan oleh Thomas L. Friedman adalah tatanan dunia semakin lama semakin datar.

Dunia yang dahulu dikuasai oleh hirarki, penguasa-penguasa, diktaktor, perlahan-lahan mulai bergerak semakin datar. Contohnya:

– Organisasi semakin datar, tadinya perusahaan dari presiden direktur sampai ke staff jaraknya bisa sampai 15 jenjang, sekarang 5 pun sudah terlalu banyak.

– Tadinya berita dikuasai oleh kantor-kantor berita, saat ini setiap orang bisa melaporkan berita dan menyebarkannya melalui citizen jurnalistic dan social media.

– Perusahaan raksasa mulai dijungkalkan oleh “start-up” yang kreatif dan cepat

– Pemilik modal bukan lagi penguasa, karena mulai muncul mekanisme “crowd-sourcing” dimana perusahaan dibiayai oleh sekumpulan orang.

– Fenomena bit-coin juga cukup mengejutkan, sekelompok orang mampu membuat sistem mata uang, yang bahkan mengancam sistem mata uang konvensional.

Hal ini dimungkinkan karena semakin cepatnya informasi dan pengetahuan berkembang, selain itu teknologi juga memberikan peluang yang belum pernah diberikan sebelumnya. Contohnya :

– Teknologi smart-phone saat ini sangat kuat, berbekal smart-phone anda bisa membuat jurnalistik atau film dengan kualitas HD.

– Berbekal situs blog dan social media anda bisa mem-broadcast hasil karya anda nyaris ke seluruh penjuru dunia.

– Pemodelan 3D memungkinkan anda membuat prototip dengan sangat cepat

– Teknologi elektronik berkembang dengan sangat cepat, anda bisa membeli berbagai sensor, aktuator dengan mudah dari segala penjuru dunia.

Dan semakin lama semakin terasa efek dari dunia yang semakin rata ini:

– Anak-anak muda yang kreatif dapat keluar dari jeratan kemiskinan yang sebelumnya sangat sulit untuk ditembus

– Penguasa-penguasa feodal mulai ditinggalkan, digantikan oleh pemimpin yang mampu memberikan nilai-nilai, bahkan organisasi tanpa pemimpin.

– kepastian kerja semakin lama semakin hilang, digantikan peluang-peluang baru yang terus bermunculan.

– Karena cepatnya ilmu kita usang, semakin cepat juga kita ter-marginalkan dalam dunia kerja kita.

– Orang mulai bosan dengan birokrasi yang bertele-tele

– Dan sangat banyak lagi

 Saya yakin dunia yang semakin rata ini akan memberikan manfaat yang sangat besar kepada umat manusia, tetapi untuk beberapa orang yang saat ini berada pada puncak atau sudah nyaman harus sangat berhati-hati, misalnya pejabat di bidang swasta ataupun pemerintahan, pengusaha sukses, pns dan karyawan. Karena keseluruhan ekosistem pasti akan berubah dengan drastis, dengan tatanan dunia yang baru, cepat ataupun lambat, dan saya lebih yakin akan terjadi dalam waktu cepat. 

Dunia yang semakin rata ini sebenarnya merupakan tantangan yang menarik, tetapi jika kita salah dalam mengelolanya bisa menjadi malapetaka.

Jika saat ini sudah merasa nyaman, bersiap-siaplah atas perubahan yang terjadi, posisi anda saat ini yang menjadi keunggulan kompetitif anda, tidak akan memberikan keunggulan dalam waktu lama. Kemampuan kita untuk terus beradaptasi dan memberikan nilai lah yang akan terus memberikan perbedaan.

Advertisements

Tangan yang Tidak Kelihatan

Image

Pernahkah anda perhatikan rumah makan McD di sekitar rumah anda? Beberapa rumah makan MCD sangat ramai. Di lain pihak kita juga melihat sangat banyak rumah makan yang sepi sekali, orang yang masuk sangat sedikit, bahkan seringkali kosong.

Mungkin 10 tahun yang lalu, orang-orang akan berkata, pakai dukun, pakai jin, pakai jimat atau hal-hal mistik lainnya yang tidak kelihatan yang membuat orang-orang ini agar datang ke rumah makan tertentu. Saya ingat dahulu sekitar tahun 2000 saya mengunjungi McD di BIP, ramai sekali, sampai-sampai saya bercanda ke kakak saya, ini McD pakai jin satu kompi mungkin yah, sampai ramai seperti ini.

Tetapi pertanyaan ini sebenarnya masih membekas, karena tampaknya pengunjung rumah makan, toko, dll seperti bergerak tidak natural, mereka mengelompok. Dan sepertinya memang ada hal yang tidak kelihatan yang sedang terjadi. Tetap kalau jawabannya jin, kok ya kurang ilmiah.

Ternyata “Tangan yang Tidak Kelihatan” ini adalah disain dan fitur utama dari sistem ekonomi pasar yang dicetuskan oleh Adam Smith. Pelaku pasar, yaitu pembeli dan penjual dikendalikan oleh tangan yang tidak kelihatan, pembeli akan diarahkan penjual yang memberikan harga terbaik, sedangkan penjual akan memaksimalkan keuntungan dengan tertinggi. Proses yang sederhana inilah yang menjadi bangunan ekonomi kita.

Tangan yang tidak kelihatan ini akhirnya akan menjaga sebagian besar dalam keteraturan, berbagai tipe orang di dunia yang sangat berbeda-beda, mulai dari orang jahat, orang baik, orang suci, orang serakah dan lain-lain.

Sebagai contoh sederhana:

– Ada pengusaha yang sangat pelit, sehingga ia menggaji pegawainya sangat rendah, tangan yang tidak kelihatan ini akan memberitahu sang pegawai, bahawa ada pengusaha yang lain yang mau membayar lebih tinggi. Sehingga akhirnya pengusaha tersebut dipaksa oleh “sang tangan” untuk menaikkan gaji pegawai.

– Suatu hari pak Tani yang kebingungan, panen cabe berlimpah-limpah, tetapi ia tidak memiliki mobil untuk mengirimnya ke pasar, sang tangan akan memberitahu tengkulak bahwa ada cabe yang sangat banyak di desa, dan di kota saat ini sedang mahal, sehingga ia akan berusaha membawa mobil untuk membeli cabe pak Tani ke pasar. 

– Harga bawang merah saat ini sedang tinggi, “sang tangan” memberi sinyal ke pak Tani untuk menanam bawang.

Kemudian, kenapa sang tangan selalu memberi tahu kita ke McD, bukan ke toko yang menawarkan yang lebih murah? McD dengan segala daya upayanya telah berhasil membuat tangan ini mengarahkan kita agar selalu ke sana. Berbagai cara dilakukan ke McD:

– Membuat makanan yang enak, bersih dan gurih

– Menyediakan ruangan yang nyaman

– Memberikan “gengsi” kepada orang yang makan di sana

– Mempengaruhi keputusan kita melalui iklan-iklannya

– Memberikan hadiah-hadiah untuk anak-anak kita.

– dll.

Sehingga tangan ini, ketika kita lapar selalu diarahkan ke sana, jadi sebenarnya bukan sang jin yang mengarahkan kita ke sana.

Kekuatan “tangan yang tak kelihatan” ini sangatlah besar, seperti bisa dilihat tadi, orang yang kikir pun seringkali harus mengikuti kehendak “sang tangan”. Dan ia mampu mengendalikan jutaan bahkan miliaran orang.

Kemudian implikasinya buat saya apa?  Seperti sudah saya sebutkan kuasa dari tangan ini sangatlah besar, kita harus membuat tangan ini bekerja untuk kita, tapi jangan pergi ke dukun. Misalnya, ini misalnya:

– Jangan jadi orang yang menyebalkan, kalau kita menyebalkan sang tangan ini akan mengarahkan orang-orang untuk menghindari anda

– Tingkatkan potensi dan kemampuan, sehingga tangan ini akan mengarahkan orang yang membutuhkan kemampuan anda.

– dan lainnya, yang kira-kira membantu sang tangan ini mengarahkan hal-hal baik kepada anda.

Dan terakhir, Selamat Tahun Baru Imlek. Gong Xi Fa cai, semoga sang tangan membawakan kesejahteraan di tahun kuda ini :).

Ilusi nilai intrinsic

Image

Dalam ilmu ekonomi kita mengenal istilah nilai intrinsik, atau nilai sesungguhnya dari suatu barang. Yang sering dijadikan acuan umumnya adalah emas, harga emas sering dianggap sebagai nilai acuan yang tidak terpengaruh oleh inflasi. Jika harga emas rendah, orang sering mengatakan harga pasar under-value, sedang jika harga emas sedang tinggi, dikatakan over-value, dibandingkan nilai intrinsiknya.

Tetapi adakah sebenarnya harga sesungguhnya? Menurut pendukung ekonomi pasar, tidak ada istilahnya nilai intrinsik, bahkan emas. Dan kebetulan saya setuju dengan istilah ini, tidak ada nilai intrinsik. Tetapi seperti halnya ilusi, sangat menyakinkan, menyadari hal ini juga melalui “goncangan batin”.

Saya sering menganggap nilai suatu barang adalah harga yang dibutuhkan untuk membuatnya. untuk nasi goreng, harganya kira-kira ongkos tenaga kerja, harga beras, harga daging, bumbu-bumbu dan margin keuntungan. Semakin banyak porsinya, nilainya semakin mahal. Sehingga harga emas, kira-kira sama, adalah biaya produksi membuat emas.

Tetapi pendekatan ini biaya produksi sebagai nilai intrinsik juga kurang tepat, andaikan anda menjual nasi goreng yang tidak enak tentu orang-orang juga tidak mau beli, walaupun biaya pembuatannya mahal dan anda jual dengan harga murah. Orang tidak akan menghargainya, Jadi biaya pembuatan bukanlah nilai intrinsik.

Atau mungkin kita bisa bilang kalau begitu, sesuatu jika dibutuhkan oleh orang, nilai intrinsiknya tinggi? Hal ini juga gagal, karena air, udara adalah hal-hal yang sangat bernilai, tetapi nilainya rendah.

Tetapi kalau air di tengah padang gurun, ditawarkan pada orang yang hampir mati kehausan, pasti dia akan menukarkan dengan apapun yang ia miliki, bahkan jika ia memiliki 1 kg emas, saya yakin ia mau menukarkannya dengan 1 botol aqua. Karena ia sangat membutuhkan dan anda pemilik satu-satunya, sehingga barang menjadi sangat langka.

Jadi menurut pendapat saya nilai intrinsik ini adalah ilusi, tidak ada yang namanya nilai intrinsik. Nilai suatu barang adalah perbandingan antara persediaan dan permintaan. Semakin jarang dan semakin dibutuhkan semakin tinggi nilainya. Dan tentu saja nilainya bisa berubah sepanjang waktu.

Hal ini semakin diperkuat lagi dengan kejatuhan harga emas, harga emas yang jatuh menunjukkan bahwa, bahkan emas pun sangat terpengaruh oleh hukum permintaan dan penawaran, emas tidak lagi memiliki nilai intrinsik.

Setelah menyadari harga ini ditentukan penawaran dan permintaan, hal ini mulai menjadi jelas untuk saya, mengapa saham yang notabene hanya selembar kertas bisa berharga sangat mahal. Karena dengan saham ini anda memiliki hak untuk mendapatkan deviden, baik untuk saat ini dan saat mendatang.

Menyadari bahwa kertas(saham) bisa berharga semahal kertas, Hal ini juga membawa kemungkinan baru, jika harga kertas (saham)  bisa semahal emas, hal-hal yang tidak kelihatan dan abstrak/intangible, jika memberikan nilai dan sangat jarang ditemui saat ini, bisa juga semahal emas bahkan lebih.

Pengetahuan, persahabatan, komunikasi, dukungan, semangat, keyakinan, dan cinta adalah contoh hal-hal yang tidak memiliki nilai intrinsik, tetapi sangat bernilai untuk bekal hidup. Kualitas yang sangat dihargai oleh orang-orang yang mengerti di jaman material seperti saat ini.

Ketika kita mulai membahayakan hal-hal ini, untuk hal-hal lain yang bersifat material, kita haruslah hati-hati, jangan-jangan kita mengorbankan hal yang lebih berharga terhadap sesuatu yang kurang berharga.

Melalui tulisan ini saya ingin mengajak teman-teman untuk mencoba menghargai hal-hal intangible yang sebenarnya bisa jadi sangat berharga. Jangan tertipu oleh ilusi benda-benda yang bersifat material.

Pembagian Kekayaan dan Kekuasaan

Image

Ilmu ekonomi dan ilmu politik adalah ilmu yang muncul karena keterbatasan. Yang tugasnya membagi-bagi kekayaan dan kekuasaan. Andaikan semua orang bisa terpenuhi kebutuhannya, tidak akan muncul ilmu ekonomi dan ilmu politik. Tetapi memang kalau sudah terpenuhi tampaknya memang mungkin tidak akan ada ilmu-ilmu lainnya :).

Karena semua orang bersaing ingin mendapatkan “sesuatu” yang umumnya terbatas, harus dibuat mekanisme untuk membaginya. Misalnya Iphone 5, pastinya banyak dong yang mau, karena jumlahnya terbatas harus dicari cara untuk membaginya.

Ilmu politik kalau dilihat hampir sama dengan ilmu ekonomi, tetapi kalau di ilmu ekonomi yang dibagi adalah barang dan jasa, atau singkatnya kekayaan, ilmu politik yang dibagi adalah kekuasaan, yang pada akhirnya erat kaitannya dengan kekayaan.

Karenanya ketidak pedulian terhadap ilmu ekonomi ataupun politik, bisa menyebabkan kita “naive” dan konyol, politik dan ekonomi adalah hal yang terlalu penting untuk kita serahkan kepada politikus atau ekonom.

Menurut mentor saya, pada dasarnya ada 3 sistem ekonomi atau politik, yang ditawarkan oleh dunia:

Sistem yang pertama, paling sederhana, adalah fascism, atau bahasa sederhananya premanisme, dimana kekayaan dikuasai oleh preman, penjajah, diktaktor ataupun orang kuat lainnya. Umumnya primitif karena memang tidak ada insentif untuk maju, yang ada ya bertengkar terus. Ini masih sering kita lihat di sekitar kita.

Sistem yang kedua adalah sistem pasar atau kapitalis, dimana yang bisa memenuhi kebutuhan pasar lah yang berjaya, umumnya lebih maju, karena orang didorong untuk kreatif untuk memberikan yang terbaik untuk pasar. Tetapi bila sudah terjadi pemusatan kekuatan ekonomi sering terjadi berubah menjadi premanisme. Dan karena pasar ini “cukup kejam”, masyarakat yang lemah dapat semakin ter-marginalkan. Tidak heran muncul istilah yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin.

Sistem yang ketiga adalah sistem komunis, yang terkenal dengan “sama rata sama rasa“, Karl Marx melihat bahwa kerusakan yang diakibatkan sistem ekonomi pasar sangatlah dahsyat, orang-orang di eksploitasi dengan sangat kejam. Kesejahteraan tidak menetes ke kalangan bawah, tetapi tertahan di pemilik modal. Tetapi prinsip sama rata sama rasa ini tidak memberikan insentif kepada orang yang kreatif, orang yang bekerja keras. Selain itu semua dikendalikan pusat, sehingga mengakibatkan kemandekan yang efeknya seringkali lebih buruk dari Sistem pasar.

Itulah ketiga sistem yang ditawarkan oleh dunia. Tetapi ada satu sistem lagi yang tidak 100% rasional, tetapi lebih diarahkan oleh hati. Yaitu sistem keempat yang didasarkan pada nilai-nilai agama dan KeTuhanan. Umat Muslim  memiliki sistem ekonomi Syariah, Pemimipin umat Katolik Paus Francis juga menyerukan kegagalan sistem kapitalis. Sistem ini mungkin tidak menawarkan keuntungan sebesar sistem kapitalis, karena ada nilai-nilai yang tidak bisa dilanggar, tetapi dalam jangka panjang memberikan imbal balik yang terbesar bagi komunitas dan pribadi.

Karena pada dasarnya dunia ini lebih mengutamakan hal yang bersifat materi, kaum terakhir ini mungkin tidak akan sebesar kaum kapitalis dan komunis. Sebagai pribadi mungkin kita bisa saja kalah bersaing dengan kapitalis sejati, tetapi jangan kuatir, walaupun jumlahnya tidak besar, tetapi kaum yang terakhir ini yang memberi warna, membuat dunia menjadi tempat yang lebih indah, dan memberikan rasa pada dunia, dan memberikan kepuasan pribadi yang tertinggi. Jangan sampai kaum keempat justru membuat keadaan lebih buruk.

Keempat sistem ini akan selalu hidup bersama, dan memiliki implikasi dalam hidup kita, masing-masing memiliki karakteristiknya masing-masing. Mereka akan selalu bekerja membagi-bagi kekayaan atau kekuasaan, setiap saat setiap waktu. Jangan sampai kita hanya jadi penonton ataupun korban.

Permainan, Mengubah Hal Menjemukan menjadi Menyenangkan

Image

Contoh paling aneh ya permainan sepak bola, kalau dipikir apa coba serunya main sepak bola, satu bola di keroyok 22 orang. Beli sendiri-sendiri juga bisa.

Tapi hal yang menyebabkan berbeda, adalah olah raga ini diubah menjadi permainan, dimana secara intagible ada tiga prinsip yang dipenuhi oleh sepak bola ini:
– Waktu yang Terbatas,  memberi urgensi, yang mendorong kita untuk bertindak.
– Adanya tantangan, kalau bolanya 22, mungkin kurang menantang :).
– Adanya Score, kalau ga ada gawangnya mungkin pada malas main bola

Kalau permainan sepak bola yang sangat aneh saja bisa dibuat menyenangkan, apalagi pekerjaan dan tantangan kita sehari-hari tentu lebih seru kalau dibuat menyenangkan. Caranya bagaimana? ya kita buat menjadi permainan.

Saya coba share pengalaman pribadi saya, menulis itu bisa jadi merupakan salah satu kegiatan yang membosankan, yang pernah membuat TA atau Thesis pasti mengetahui rasanya. Tetapi tanpa sengaja, tampaknya saya sudah menjadikan kegiatan menulis ini menjadi permainan yang menyenangkan.

Dalam satu buah posting, terdapat sekitar 400 huruf, yang setara dengan satu halaman novel. Saat ini sudah ter-posting 100 artikel, artinya setara dengan 100 halaman dalam waktu 3 bulan, mengingat waktu pembuatan thesis adalah satu semester, tampaknya dalam 6 bulan, jumlah kata dalam blog ini sudah setara dengan thesis :).

Waktu yang terbatas: Menulis blog ini sudah menjadi obsesi pribadi saya, dimana setiap hari saya harus mencatat pengalaman atau hasil membaca buku dalam blog ini, sehingga setiap hari mengingatkan saya untuk melakukan posting. Setiap hari meluangkan waktu setengah jam untuk mengisi blog sangatlah menyenangkan. Kalau 3 hari tidak nge-blog “red alert” harus diaktifkan.

Adanya tantangan: Menulis setiap hari ini juga menjadi tantangan tersendiri, terkadang bingung juga harus menulis apa, kesempatan di kereta atau kalau lagi senggang, memikirkan ide apa yang akan dituliskan. Semuanya masih abstrak hingga akhirnya menjadi tulisan.

Adanya Score: Statistik di wordpress sangatlah memberikan motivasi, ketika ada yang membaca blog saya, thanks teman-teman atas kunjungannya. Kadang-kadang satu posting bisa di hampiri secara bervariasi kadang-kadang sedikit kadang-kadang banyak. Kemudian complimentary dan comment dari teman-teman juga menjadi score buat saya.

Dan saat ini saya sedang belajar juga untuk mem-follow up pekerjaan di kantor seperti layaknya permainan, semua yang harus diselesaikan, harus diusahakan diselesaikan. setiap task yang selesai, harus dilihat sebagai score dan tantangan. Dan semua task ini memiliki batas waktu.

Di rumah juga ada aktivitas membosankan yang harus di create score nya : Ber-olah raga, tampaknya endomondo dan sepeda harus mulai digiatkan kembali :).

Selamat menciptakan permainan anda sendiri teman, niscaya yang membosankan jadi menyenangkan.

Memulai dengan Kecil untuk Mendapatkan Hasil yang Besar

Image

Tuntutan pekerjaan mengharuskan kita menghasilkan hal-hal yang besar, karena hasil yang besar dapat diterjemahkan menjadi renumerasi (bahasa sederhananya, gaji, pendapatan, bonus, dll) yang besar. Kalau hasilnya kecil, ya pasti dapatnya kecil, kalau dapatnya besar, artinya ada yang men-subsidi, artinya tidak sustainable

Tetapi menghasilkan sesuatu yang besar, sering kali kompleksitasnya sangat tinggi, banyak hal-hal yang tak terduga muncul, keahlian, pengetahuan dan pengalaman kita kurang, stress meningkat. Akhirnya hal yang besar tersebut tidak pernah selesai, hanya dalam angan-angan dan tidak riil. Di atas kertas sangat baik tetapi dalam kenyataan seringkali gagal total.

Jika sudah gagal, orang-orang akan mengatakan bahwa planningnya kurang baik, visinya kurang, orang-orangnya kurang berkompeten dan lain sebagainya. Jika menurut saya, bukan ini penyebabnya, menurut saya, rencananya terlalu besar.

Nah lho, tadi katanya disuruh menghasilkan hal yang besar, sekarang katanya rencananya terlalu besar. Mengelola projek besar seperti ini seperti mengelola kehidupan, banyak kejutan yang mungkin muncul, banyak hal-hal detil yang belum kita kuasai, kompleksitas pun meningkat secara eksponensial, orang-orang perlu belajar terhadap hal yang baru dan sering kita terjebak justru mengerjakan hal-hal yang kurang penting.

Untuk menghadapi hal yang besar, yang kita perlu lakukan adalah menyelesaikan hal yang kecil dari yang besar ini sebaik-baiknya, kemudian menentukan apa yang akan kita lakukan selanjutnya untuk mencapai hal yang besar. Dengan cara ini ada beberapa keuntungan yang kita peroleh :
– Kita akan belajar dari pengalaman yang kecil ini
– Kita mengurangi kompleksitas secara signifikan, karena ukuran proyek yang lebih kecil sehingga lebih mudah diselesaikan.
– Kita fokus menyelesaikan permasalahan saat ini, sehingga permasalahan tidak terbawa sampai akhir proyek yang akhirnya membuat kita kewalahan.
– Kita fokus terhadap hal-hal yang penting, hal-hal yang kurang penting bisa kita hindari
– Kita mendapatkan perspektif yang lebih baik
– Kemenangan-kemenangan kecil memberikan semangat untuk kemenangan yang lebih besar

Akhirnya walaupun kita memulai dengan lebih kecil, kita bisa menyelesaikan hal dengan lebih besar dengan lebih cepat, karena kita menghindari kebuntuan, kita menghindari kompleksitas, mengurangi konflik, mengurangi resiko dan terhindar dari pekerjaan yang kurang penting.

Tentu godaan yang sering muncul adalah keinginan untuk mengerjakan sesuatu yang besar, menambah scope proyek, apalagi seiring dengan waktu, kita melihat kesempatan-kesempatan baru yang muncul seiring dengan proyek kita. Kesempatan-kesempatan ini harus dicatat, agar tidak lupa, tetapi kita harus tetap menyelesaikan “proyek kecil” kita sebelum kita melangkah ke proyek berikutnya, jangan sampai fokus kita terpecah, karena ini akan menyebabkan malapetaka.

Jika kita disiplin dengan proyek kecil kita, akan lebih cepat kita mendapatkan hasil yang lebih besar. Walaupun kedengarannya seperti paradox, tetapi dari pengalaman saya, itulah yang terjadi.

Menghindari Pemborosan Meringankan Hidup

Image

Apakah anda orang yang boros? Mungkin ada yang menjawab ya, ada yang menjawab tidak. Tetapi pemborosan yang di bahas di sini lebih banyak mengenai pemborosan yang sering kali tidak kita sadari tapi membebani hidup kita. Jadi kalau bisa dihilangkan, kita tidak merasa kehilangan :). 

Untuk mempermudah pembahasan, kita ambil saja contoh pemborosan dalam proses pulang pergi kantor. Pada dasarnya output yang kita inginkan adalah sampai di kantor dan pulang dari kantor tepat waktu.

Misalkan kita memilih untuk naik mobil dari rumah ke kantor, maka akan coba kita hitung pemborosan yang terjadi:
– Dari sisi energi : Misalkan berat badan kita 70 kg, ke kantor naik mobil sangat boros, karena kita ingin memindahkan tubuh kita yang beratnya 70 kg, tetapi harus memindahkan mobil seberat lebih dari 1 ton, apalagi kalau mobilnya fortuner atau bmw yang terkenal berat.
– Dari utilitas mobil : Mobil ini harus mengantarkan kita ke kantor pagi hari, sekitar 1.5 jam, pulangnya sama 1.5 jam juga, sisanya nganggur di tempat parkir. Dari 24 jam mobil hanya terpakai rata-rata 3 jam.
– Dari waktu : Karena macet, jarak yang harusnya bisa ditempuh 45 menit, karena padat jadi 1.5 jam, pemborosan 50%.
– Selama mengendarai mobil kita tidak bisa melakukan apa-apa, misalkan rate kita Rp 50.000 / jam, pemborosan mengendarai mobil ini Rp 150.000 / 3 jam.

Dari mengendarai mobil ke kantor kita sudah sangat mudah menemukan pemborosan yang terjadi, untuk mengeliminasi pemborosan ini kita harus fokus terhadap output yang kita inginkan, yaitu berangkat dan pulang kantor tepat waktu. Bisa naik KRL, naik shuttle, pindah rumah dekat kantor, rombongan, atau solusi lainnya yang out of the box.

Pemborosan-pemborosan ini juga terjadi di kehidupan sehari-hari kita, misalnya:
– Punya perabotan banyak, baju, mobil yang terpakai ya cuma sebagian, sebagian besar nganggur
– Punya alat olah raga lengkap, semangatnya cuma sebentar, sesudahnya tergeletak begitu saja
– Channel TV ada 60, ya ditonton ya paling cuma 10, yang sering ditonton cuma 3.
– Rumahnya besar, pemborosan, karena harus ngepel, bayar pajak, renovasi dll.

Negara jepang adalah salah satu negara yang sangat peduli terhadap pemborosan ini, istilah mereka adalah “Muda”, bisa dicari sendiri di wikipedia. Dengan mengeliminasi pemborosan-pemborosan yang terjadi, Toyota berhasil menjadi pemimpin dunia otomotif, menghasilkan produk yang awet, berkualitas dengan harga yang terjangkau.

Apabila kita bisa mengidentifikasikan pemborosan-pemborosan ini, dan mulai melakukan efisiensi, tampaknya hidup kita bisa lebih ringan dengan hasil yang lebih baik. Karena pemborosan yang tidak kita sadari ini telah menjadi vampir yang menghisap waktu, energi, emosi dan sumberdaya finansial kita.

Mengurangi pemborosan ternyata juga sangat baik bagi lingkungan, meningkatkan produktivitas, dan meningkatkan daya saing 

Dan sedikit pesan sponsor, kalau ada barang-barang yang sudah mulai tidak terpakai, sebaiknya disumbangkan saja, mengurangi pemborosan, tetapi menghasilkan pahala :).

Menghindari Pemusatan Menghindari Kebuntuan

Image

Dalam hidup sehari-hari sering kita mengalami berbagai kebuntuan yang disebabkan oleh pemusatan. Contoh paling aktual saat ini adalah Banjir di Jakarta. Bagaimana tidak banjir, hujan yang menerpa bogor dan Jakarta, akhirnya akan masuk ke Sungai Ciliwung dan dalam waktu singkat harus dibuang ke laut. Tak ayal, ketika hujan besar saluran tidak memadai, banjir terjadi di seantero jakarta.

Kalau kita hendak berangkat kantor, dalam waktu bersamaan mobil-mobil berangkat ke kantor melalui jalur yang itu-itu saja, terulang lagi saat jam pulang kantor, setiap hari seperti itu. Mobil-mobil terpusat dalam waktu yang pendek melintasi jalan yang terbatas.

Begitu pula kalau terjadi musibah, macet yang luar biasa ataupun situasi yang luar biasa, Pak Jokowi dan Pak SBY jadi korbannya. Padahal pejabat itu kan bukan hanya beliau yah, kenapa selalu beliau-beliau ini yang disalahkan? Memangnya rakyatnya tidak bersalah? Bagaimana dengan Pak lurah, pak camat, pak bupati, wah masih banyak lagi.

Kalau mau ujian, sehari sebelumnya baru belajar, sistem kebut semalam nama bekennya, ya overload lah otaknya, setelah ujian juga sudah lupa lagi, maklum cepat nempel cepat lepas.

Sistem ekonomi terpusat saja terbukti sudah gagal, bahkan negara yang menganut sistem ini Rusia dan China sudah meninggalkan sistem ini, lebih mengadopsi sistem ekonomi pasar, dimana pelaku ekonomi ini digerakkan oleh orang-per-orang dibandingkan oleh negara.

Pemerintah juga mulai melakukan privatisasi BUMN, dimana memang BUMN ini lebih efektif jika bekerja sebagai badan usaha yang mencari laba, terpisah dari fungsi pemerintah. Kalaupun perlu ada subsidi, pemerintah yang melakukan subsidi melalui BUMN ini, bukan BUMN tersebut yang memberi subsidi.

Di lain pihak kita juga mengenal social media, seperti facebook dan twitter, dimana yang mengisi kontent bukan lagi pihak-pihak yang berkuasa, melainkan orang-orang biasa. Orang-orang bisa membuat kontent, berbagi konten, berbagi informasi tanpa perlu ada lagi pengendali terpusat, badan sensor sudah tidak musim.

Kalau dulu mau masuk TVRI susahnya bukan main, saat ini kalau mau mendunia, tinggal rekam di youtube, kalau memang menarik ya jadi terkenal. Tetapi juga bukan tiada kendali, kendali tetap ada tapi kendali sosial.

Bahkan kereta api yang dahulu memiliki lokomotif dan gerbong yang harus ditarik, sekarang juga mulai berubah, tiap gerbong adalah lokomotif penggerak.

Pengendalian terpusat tidak cukup lincah, gesit dan tidak lebih baik. Kendali oleh pelaku dan kontrol sosial akan lebih efektif dibandingkan kendali terpusat.

Pemusatan-pemusatan dalam berbagai bidang inilah yang pelan-pelan harus dikurangi, karena pemusatan ini menyebabkan overload, penyelesain masalah menjadi lambat, dan membuat partisipasi mayoritas terbelenggu.

Dan pada akhirnya jika pemusatan dapat dihindari, kemungkinan kebuntuan dapat semakin dihindari.

Provokator di Kepala Kita

Image

Kalau ada suatu kejadian yang kurang menyenangkan, kira-kira anda memilih berada dekat orang yang menenangkan atau provokator? Walaupun mungkin yang dikatakan provokator tersebut ada benarnya, saya rasa semua memilih bersama dengan orang yang menenangkan. Karena provokator ini akan membakar emosi anda sehingga menyebabkan anda tidak mungkin berpikir jernih.

Tetapi sayangnya, provokator itu adalah kita sendiri, ketika melihat, mendengar atau merasakan kejadian yang kurang mengenakkan, otak kita dalam waktu kurang dari 1 detik mulai menerjemahkan kejadian ini, mulai menambah-nambakan informasi, bahkan mengumpulkan hak-hak anda yang tidak di langgar, sehingga memberikan pembenaran terhadap kemarahan kita.

Dan dahsyatnya lagi, tampaknya para provokator ini bekerja secara otomatis, mungkin disebabkan pemrograman dalam hidup kita, atau bahkan kehidupan nenek moyang kita.

Misalnya kemarin saya naik KRL (pengalaman pribadi, red.) kemudian KRL nya berhenti lama sekali, saya dan orang-orang mulai kesal. Ternyata ada permasalahan persinyalan di Kebayoran. Untungnya provokator kecil di kepala ini berhasil ter-identifikasi :). Kalau tidak, saya akan sangat kesal. Si provokator ini mulai membuat cerita: KRL tidak profesional, sebagai penumpang saya tidak layak diperlakukan seperti ini, saya menghabiskan waktu sangat banyak di perjalanan, AC nya panas, dll. Sehingga ledakan emosi belum sampai terjadi, tapi memang keukeuh sekali ini provokator nya dalam memprovokasi, dia mencoba lagi di setiap ada kesempatan. 

Masalahnya kalau provokator ini telah sukses membakar emosi kita, sangat susah memadamkannya, karena efeknya sudah bersifat fisiologis, hormon adrenalin di kucurkan dengan kecang, pembuluh darah kita melebar, detak jantung kita meningkat dengan drastis. Kita sudah diubah menjadi “Mesin Perang”. Dan jika ia telah menimbulkan kerusakan, lebih sulit lagi memperbaikinya.

Karena pada dasarnya fakta/kejadian itu adalah netral, cerita-cerita dari provokator inilah yang menyebabkan kita marah, dan hebatnya lagi ia sangat cepat bereaksi.

Misalnya kalau ada teman akrab anda membanggil anda “Orang Gila”, mungkin anda cuma tersenyum dan membalas “Orang Gila” juga. Tetapi jika ada orang di jalan yang anda tidak kenal memanggil anda “Orang Gila”, mungkin anda langsung berpikir, ini siapa, ga sopan banget, saya ber-hak marah jika diperlakukan seperti ini, saya pantas memberinya pelajaran dan sebagainya dan sebagainya, pembenaran untuk kemarahan anda.  Setelah anda berpikir seperti itu, mulailah siklus kemarahan hati anda.

Tetapi jika anda bisa mulai menyadari keberadaan provokator kecil ini, anda akan mencegah anda berubah menjadi “Mesin Perang”, tentu lebih mudah bagi anda menyelesaikan masalah ini. 

Karena ketika anda sudah marah, sangat susah memadamkannya, sehingga mencegah sebelum ia meledak, menjadi suatu pilihan yang rasional.  

Blog at WordPress.com.

Up ↑